BADAI SUSULAN DI BANDUNG 1922

BADAI SUSULAN DI BANDUNG 1922

Hanya berselang empat hari, Kota Bandung kembali dihantam badai di awal tahun 1922. Badai pertama terjadi pada Rabu, 25 Januari 1922, dan menyebabkan kekacauan besar di kota. Banjir terjadi di mana-mana, pohon tumbang, atap bocor, bangunan rubuh, bahkan menelan korban jiwa. Ketika warga baru saja membenahi kerusakan dan mulai beraktivitas seperti biasa, hujan kembali datang disertai angin kencang dan kilat yang menyambar, pada hari Minggu, 29 Januari 1922.

Hari Minggu itu sebenarnya sempat diwarnai cuaca cukup cerah. Namun, langit kembali menggelap, dan badai besar datang lagi. Dalam laporan surat kabar De Preangerbode edisi 30 Januari 1922, badai yang datang pada hari itu sama dahsyatnya dengan badai sebelumnya. Hujan deras membuat sungai dan selokan meluap, menenggelamkan kawasan luas dan menimbulkan kerusakan besar.

Baca JugaSAAT BANDUNG DISAPU BADAI BESAR

Di kawasan Cicendo, ketinggian banjir cukup parah. Masyarakat terdampak bahkan meletakkan anak-anak mereka di atas meja agar aman dari air. Seorang warga mengisahkan bahwa perabotan rumah rusak berat, ayam-ayam hanyut, dan tempat tidur basah kuyup. Kerugian akibat banjir ini diperkirakan mencapai 250 gulden. Terendamnya kawasan Cicendo di utara kota membuat wartawan yakin bahwa perkampungan Tionghoa di selatan pun akan mengalami hal serupa.

Kawasan lain yang terendam ialah Desa Pangarang, yang memang kerap dilanda banjir akibat naiknya debit air Sungai Cikapundung. Selain di Pangarang, genangan juga terjadi di Jalan Pungkur dan Kebon Kelapa. Kedua kawasan ini bahkan diterjang angin kencang yang memperparah keadaan.

Di bagian timur kota, angin puting beliung muncul dan merusak atap-atap rumah. Beberapa rumah menjadi tidak layak huni, memaksa warga mengungsi ke pusat kota untuk mencari perlindungan. Selain merusak rumah, angin besar juga menghantam kawasan industri. Pabrik gas di Kiaracondong menjadi salah satu yang terdampak berat. Meskipun mengalami kerusakan parah, pabrik tersebut tetap beroperasi di tengah kondisi sulit.

Baca JugaSambungan Gas di Kota Bandung

Kerusakan juga terjadi di kompleks ACW (sekarang PINDAD). Angin menerbangkan atap-atap dari lembaran besi, meskipun secara keseluruhan kerusakannya dilaporkan ringan. Kepanikan serupa terjadi di Gedung Pegadaian di kawasan Cikudapateuh, ketika atapnya rusak diterpa angin dan air hujan langsung menggenangi bagian dalam bangunan. Ratusan barang gadai, termasuk sarung dan kain, menjadi basah kuyup. Para pegawai berupaya menyelamatkan barang-barang tersebut dengan memindahkannya keluar gedung pada keesokan harinya.

Badai besar itu juga sempat mengganggu perjalanan kereta api. Angin merobohkan tiang-tiang telegraf antara Stasiun Kiaracondong dan Gedebage, sehingga kereta ekspres dari Surabaya tiba di Bandung dengan keterlambatan satu setengah jam. Situasi makin mencekam ketika perusahaan listrik memutus aliran di sebagian besar wilayah kota selama hampir dua jam. Kondisi ini membuat penderitaan warga semakin berat, terutama bagi mereka yang rumahnya tergenang atau bocor parah.

Foto merupakan generate dari AI.

Tulisan ini disadur dari artikel berjudul NOODWEER-REPRISE yang ditulis di koran De Preangerbode Edisi30 Januari 1922.


Leave a Reply

Your email address will not be published.