Banjir Besar Bandung 1940

Banjir Besar Bandung 1940

Pada 18 Maret 1940, Kota Bandung kembali dilanda banjir besar yang meninggalkan jejak kerusakan luas di beberapa penjuru kota. Banjir yang terjadi pada Senin malam itu disebabkan oleh naiknya debit Sungai Cikapundung hingga mencapai lima meter di atas batas normal. Ketinggian yang belum pernah tercatat sepanjang sejarah sungai tersebut. Banyak desa di sepanjang tepian sungai terendam, dan beberapa rumah hancur diterjang arus air setinggi dada orang dewasa[1].

Sehari setelah memuat laporan singkat mengenai kejadian itu, Bataviaasch Nieuwsblad kembali menurunkan tulisan panjang berjudul Bandjirs Teisteren Bandoeng (Banjir Melanda Bandung). Mereka melaporkan bahwa hujan lebat di pegunungan utara kota telah meningkatkan debit air Cikapundung secara drastis. Sungai yang membelah Kota Bandung itu tidak mampu menahan volume air yang begitu besar, sehingga air meluap dengan cepat. Surat kabar tersebut menyebutkan bahwa peristiwa ini merupakan banjir terbesar dalam kurun tiga puluh tahun terakhir[2].

Baca Juga: Banjir Besar di Bandung Tahun 1919

Sebenarnya, gejala akan datangnya banjir sudah tampak sejak siang hari. Debit air di sungai-sungai dari arah pegunungan meningkat tajam. Di kawasan Cipaganti, muka air Cikapundung mulai meninggi dan merendam lahan-lahan di sekelilingnya. Sebuah tanggul bahkan dilaporkan jebol, meskipun warga segera berusaha memperbaikinya[3].

Meski demikian, penduduk kota belum memiliki firasat bahwa bencana besar tengah mengintai. Hujan deras baru mengguyur Bandung pada pukul delapan malam. Curah hujan mencapai sekitar 90 milimeter, angka yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir[4].

Menjelang pukul sembilan malam, ketika air sungai mulai meluap, masyarakat masih berharap bahwa kondisi itu akan mereda dalam beberapa jam. Namun kenyataannya, air terus naik hingga setinggi satu meter di kampung-kampung sepanjang bantaran sungai[5].

Ketika bahaya semakin jelas, petugas pribumi dan polisi berkeliling kampung memperingatkan warga untuk segera menyelamatkan diri. Pada pukul sebelas malam, situasi di banyak kampung dataran rendah berada dalam kondisi kritis. Air yang telah membanjiri pekarangan mulai menerobos masuk ke rumah-rumah. Warga terpaksa mengungsi tergesa-gesa, hanya membawa pakaian seadanya[6].

Setiap orang berupaya menyelamatkan diri bersama anggota keluarganya. Barang-barang rumah tangga seperti meja, kursi, dipan, bale-bale, koper, lemari, pakaian, bangku taman, hingga sebuah radio hanyut terbawa arus[7].

Di sejumlah titik, ketinggian air mencapai empat meter dan menenggelamkan sekitar enam kampung, termasuk beberapa rumah milik warga Eropa. Salah satu kampung yang terendam berada di belakang Hotel Homann. Masyarakat yang menjadi korban dilarikan ke rumah sakit kota [8].

Baca JugaSEJARAH RSHS: Rancabadak, di Bawah Bayang-Bayang Ratu Juliana

Menjelang tengah malam, ketika air mencapai puncaknya, beberapa rumah yang tidak kokoh hanyut, sementara banyak lainnya mengalami kerusakan parah. Beberapa jembatan kayu patah seperti korek api diterjang derasnya arus[9].

Dalam peristiwa ini, tim pemadam kebakaran bekerja keras terutama di dua lokasi: ruang percetakan N.V. Vorkink dan pabrik es Petodjo. Di ruang percetakan yang berada di posisi rendah, air tiba-tiba mencapai ketinggian satu meter. Tiga motor pemadam kebakaran memompa air selama berjam-jam. Gulungan kertas dan mesin-mesin di sana basah terendam[10].

Pabrik es Petodjo, yang letaknya juga rendah dan dekat sungai, mengalami hal sama. Empat pompa bermotor dikerahkan untuk menyedot air dari dalam pabrik. Akibatnya, produksi es terhenti dan pengiriman es kepada pelanggan pada pagi hari tidak dapat dilakukan[11].

Baca JugaSAAT PUTING BELIUNG MENGOYAK CIUMBULEUIT

Air mulai surut sekitar tengah malam. Keesokan paginya, warga sibuk membersihkan rumah, jalan, dan halaman dari endapan lumpur yang mencapai setengah meter di beberapa tempat. Mereka menjemur tikar, pakaian, karung, dan berbagai barang lainnya. Banyak pegawai terpaksa pergi ke kantor dengan piyama karena pakaian mereka hanyut atau basah[12].

Laporan lanjutan menunjukkan bahwa kerusakan lebih besar daripada perkiraan awal. Di beberapa desa, pihak berwenang melarang warga kembali menempati rumah mereka karena kondisinya berada di ambang keruntuhan. Kerugian di Kota Bandung saja diperkirakan mencapai puluhan ribu gulden[13].

Referensi:

[1] Bandjir in Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 19 Maret 1940.

[2] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[3] Bandjir teisterde Bandoeng. Soerabaijasch Handelsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[4] Bandjir teisterde Bandoeng. Soerabaijasch Handelsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[5] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[6] Bandjir teisterde Bandoeng. Soerabaijasch Handelsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[7] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[8] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[9] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[10] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[11] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[12] Bandjirs Teisteren Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 20 Maret 1940.

[13] Bandjir teisterde Bandoeng. Soerabaijasch Handelsblad. Edisi 20 Maret 1940.


Leave a Reply

Your email address will not be published.