Pada jam 5 sore tanggal 26 Agustus 1912, sebuah puting beliung menghantam pusat Kota Bandung. Peristiwa besar ini terjadi beberapa bulan sebelum bencana serupa yang menyerang Gegerkalong dan Ciumbuleuit pada Februari 1913.
Fenomena seperti ini tergolong sangat langka. Java Post menulis bahwa puting beliung hampir tidak pernah muncul di Hindia Belanda[1]. Meski begitu, beberapa kejadian hembusan dahsyat di kawasan cekungan Bandung sempat dicatat para jurnalis, termasuk yang terjadi pada akhir Agustus 1912.
Baca Juga: SAAT PUTING BELIUNG MENGOYAK CIUMBULEUIT
Pusaran itu pertama kali terlihat di sekitar Jalan Jawa. Menurut laporan De Preangerbode, kolom udara berwarna hitam setinggi sekitar 100 meter membentuk menara debu. Putaran tersebut bergerak ke tenggara menuju Cikudapateuh dan kemudian membelok ke barat menuju pusat kota.

Di sepanjang Jalan Jawa, hembusan dahsyat itu menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Genteng-genteng dari gudang dan penggergajian kayu beterbangan, begitu pula genteng rumah-rumah yang sedang dibangun. Kebun singkong di kawasan Cibunut, dekat rel kereta api, juga porak-poranda.
Cikudapateuh yang ramai berubah menjadi kacau balau. Para pejalan kaki dan sado berusaha menghindari puing-puing yang beterbangan. Sebagian lapangan bola di wilayah itu pun hancur tersapu pusaran tersebut.
Dari Cikudapateuh, putaran besar itu bergerak ke barat daya dan terus merusak bangunan yang dilaluinya. Ratusan rumah dan toko mengalami kerusakan berat karena atapnya tersapu, termasuk toko Baquié, Singer, dan percetakan Sie Djan Ho.
Saat mendekati Sungai Cikapundung, puting beliung itu kembali berbelok menuju Alun-Alun Bandung. Pohon-pohon beringin menjadi korban berikutnya. Satu dari dua pohon beringin yang berdiri di tengah lapangan rusak dan terbelah[2]. Sebuah pohon raksasa di sudut tenggara lapangan pun tumbang; beruntung arahnya jatuh ke tengah alun-alun sehingga tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.

Kawasan Alun-Alun dan sekitarnya menjadi titik dengan kerusakan paling parah. Bangunan-bangunan di tanah milik bupati tak luput dari hantaman. Rumah Penghulu pun ikut porak-poranda. Sebelumnya, sebuah warung beratap rumbia di dekatnya sudah terangkat dan tercerai-berai; barang dagangan serta keranjang-keranjangnya terlempar melayang seperti balon.
Baca Juga: SAAT BANDUNG DISAPU BADAI BESAR
Di Jalan Masjid, sebatang pohon johar tumbang, kabel telepon putus, dan lampu rusak. Atap Masjid Agung mengalami kerusakan setelah ratusan gentengnya lepas terseret pusaran udara. Toko Zikel menderita kerugian sekitar 700 gulden akibat pasak atap roboh menimpa barang dagangan. Di Kampung Banceuy, rumah-rumah hancur seluruhnya dan atapnya tersapu ke udara[3].
Di tengah kekacauan, warga berlarian mencari perlindungan. Banyak yang berlindung di dalam rumah sambil membaca doa, karena percaya bahwa kekuatan besar ini ditunggangi roh jahat yang harus diusir[4].
Bencana puting beliung itu akhirnya mereda disertai turunnya hujan lebat.
Catatan sumber: Sebagian besar tulisan bersumber pada artikel EEN WINDHOOS dalam De Preangerbode, edisi 27 Agustus 1912.
[1] NEDERLANDSCH-INDIE. Java Post. Edisi 30 Agustus 1912
[2] Windhoos te Bandoeng . Nieuwe Amsterdamsche Courant. Edisi 25 September 1912.
[3] Windhoos te Bandoeng . Nieuwe Amsterdamsche Courant. Edisi 25 September 1912.
[4] Windhoos te Bandoeng . Nieuwe Amsterdamsche Courant. Edisi 25 September 1912.


Leave a Reply