Guncangan gempa yang melanda Cipatat pada awal Januari 1911 menyebabkan kerusakan parah di berbagai lokasi. Getaran berlangsung sejak pagi hingga siang hari dan diduga merupakan kelanjutan dari rangkaian aktivitas seismik yang telah mengguncang wilayah tersebut sejak pertengahan Desember 1910[1].
Sebelum gempa di awal tahun tersebut terjadi, Cipatat telah digoyang gempa sejak pertengahan Desember 1910. Dalam buku Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, gempa di Cipatat dilaporkan terjadi pada tanggal 18 Desember 1910 jam 9 pagi. Getaran terjadi pada koordinat 6,8 Lintang Selatan dan 107,4 Bujur Timur, persis di sebelah utara jalur kereta api Tagogapu-Cipatat.
Baca Juga: SATU ABAD WACANA JALUR CIPATAT-SASAKSAAT
Meski terbilang kecil, gempa tersebut menimbulkan kerusakan di beberapa bangunan. Sejumlah bangunan mengalami keretakan, seperti pasanggrahan, bangunan stasiun Cipatat, rumah wesel, gudang batu bara, serta penyimpanan lokomotif. Meski demikian, gempa yang terjadi pada bulan Desember ini tidak sampai mengganggu lalu lintas kereta api[2].
Berbeda dengan gempa sebelumnya, gempa yang terjadi di awal bulan Januari menyebabkan kerusakan parah. Rumah-rumah rusak, tiang-tiang telepon roboh, dan jalan mengalami retak. Gempa saat itu juga menyebabkan longsor di antara Cipatat dan Tagogapu, dan membuat sistem kereta api lumpuh. Kondisi ini membuat sebuah rangkaian kereta api dari Bogor dibatalkan dan dikembalikan ke stasiun asal[3]. Sementara, para penumpang dialihkan menuju Padalarang dengan menggunakan sado.
Mengutip dari Preangerbode, koran Bataviaasch Nieuwsblad[4] menjelaskan bahwa stasiun Cipatat mengalami kerusakan yang cukup parah. Dinding di dalam ruangan-ruangan stasiun nampak retak, dan langit terlihat dari dalam. Menara air stasiun pun nampak rusak. Kerusakan ini membuat para pegawai memindahkan barang-barang ke luar stasiun. Untuk menghindari adanya gempa susulan, layanan stasiun pun dilakukan di sana.
Di stasiun di Cipatat, pejabat dan ahli dari perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) telah hadir untuk berdiskusi. Mereka mencari solusi terbaik untuk memulihkan lalu lintas kereta api di sana. Rel yang berada di antara Stasiun Cipatat dan Tagogapu praktis tidak dapat digunakan karena longsor[5].
Setelah dilakukan pemeriksaan, banyak retakan di punggung bukit yang dilalui rel. Dampak paling parah terjadi di bagian yang membentuk tanggul. Lapisan tanahnya telah mengalami amblas sehingga membuat rel tergantung. Di dekat Tagogapu, longsor yang cukup parah juga merusak tanggul sepanjang 200 meter.
Setelah terjadinya gempa, longsor ini sempat akan membahayakan perjalanan satu rangkaian kereta api yang datang dari arah Bandung. Kereta yang berangkat dari Stasiun Padalarang pukul 6.04 tersebut tiba di titik rawan bersamaan dengan gempa yang paling besar.
Sang masinis tidak menyadari adanya rel yang amblas di depan karena pandangan terbatas oleh jalur yang melengkung di perbukitan. Rangkaian kereta akhirnya selamat setelah seorang pemuda setempat memberi peringatan darurat dengan mengibarkan bendera merah yang dibuat dari celananya. Melihat sinyal bahaya tersebut, masinis segera menginjak rem dan menghentikan laju kereta tepat waktu[6].
Referensi:
[1] Aardbeving. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 4 Januari 1911.
[2] Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. 1912. Deel: LXXI, 01-01-1912. Batavia: Lange en Co. Halaman 162-163
[3] Aardbeving. Deli Courant. Edisi 5 Januari 1911.
[4] Aardbevingsmisere. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 6 Januari 1911
[5] Aardbevings-misère. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 05 Januari 1911
[6] Aardbevings-misère. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 05 Januari 1911


Leave a Reply