SAAT BANDUNG DISAPU BADAI BESAR

SAAT BANDUNG DISAPU BADAI BESAR

Cekungan Bandung tidak pernah benar-benar lepas dari ancaman bencana alam. Wilayah dataran tinggi ini kerap diguyur hujan badai, disambar petir, hingga diterpa angin puting beliung. Bencana-bencana itu bukan hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga korban jiwa. Salah satu badai terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Bandung terjadi pada 25 Januari 1922. Langit yang semula cerah mendadak gelap, dan sejak pukul 15.00 hujan turun deras disertai petir dan angin kencang. De Indische Courant menggambarkan peristiwa ini sebagai badai dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya[1].

Baca Juga: Banjir Besar di Bandung Tahun 1919

Sebelumnya, Bandung memang sering mengalami kejadian serupa setiap tahun. Sungai-sungai meluap dengan kekuatan luar biasa, menyeret batang-batang pisang, menenggelamkan kampung-kampung, menutup jalan-jalan utama, dan mengisi ruang bawah tanah rumah serta gudang dengan air keruh dan berlumpur. Namun badai saat itu merupakan kejadian luar biasa. Dalam waktu dua jam saja, badai mengubah Bandung yang tenang menjadi kota yang penuh kekacauan[2].

Surat kabar lain, De Preangerbode[3] menggambarkan peristiwa ini dengan gamblang. Koran yang berdiri tahun 1896 itu menulis “hujan turun dengan deras luar biasa, petir dan kilat menyambar tanpa henti, sementara angin puyuh menghempaskan air dari langit.”

Besarnya curah hujan yang turun membuat Bandung digenangi air. Beberapa jalan berubah menjadi sungai dan saluran air meluap jauh di atas ketinggian normal. Ironisnya, kantor De Preangerbode, yang hari itu sedang melaporkan bencana, menjadi salah satu bangunan yang paling parah terdampak. Air yang memenuhi Jalan Raya Pos, menerjang masuk ke ruangan kantor dan ruangan percetakan di bawah tanah.  Air memenuhi tempat penyetelan huruf, percetakan, penjilidan, hingga bagian distribusi. Sementara itu, Buku-buku rusak dan perabotan hancur akibat terjangan banjir. Kesibukan para karyawan untuk tetap bekerja sekaligus menyelamatkan barang-barang inventaris membuat surat kabar edisi sore terlambat dari biasanya[4].

Kerusakan bukan hanya terjadi di kantor surat kabar De Preangerbode. Badai telah merusak kantor-kantor di kawasan Jalan Raya Pos (Jalan Asia Afrika sekarang). Di saat bersamaan, gedung baru Societeit Concordia mengalami kebocoran parah disertai patahnya cabang sebuah pohon besar di dekatnya.

Kerusakan parah juga dialami oleh kantor Technisch Bureau Soenda, yang berlokasi di tempat yang menjadi kantor PLN sekarang. Banyak air yang masuk bahkan membuat arsip-arsip mengapung. Kantor ini mengalami kerugian mencapai 12.000 hingga 13.000 gulden[5].

Kerugian ribuan gulden juga menimpa para pedagang di Pasar Baru. Aliran air yang deras menerobos jalan dan rumah-rumah, menghanyutkan sagala macam barang yang ditemukan di dalam pasar. Tidak jauh dari pasar, tepatnya di Jalan Suniaraja, saluran air tidak mampu menampung volume air yang besar[6].

Selain banjir, badai juga disertai angin kencang yang menyebabkan kerusakan di banyak tempat. Banyak pohon bertumbangan seperti di sekitar stasiun, Tegallega, Jalan Rumah Sakit Lama, Jalan Residen, Jalan Raya Pos, Jalan Nias, dan banyak tempat lain. Angin juga menyebabkan kabel-kabel telepon terputus. Besarnya angin menimbulkan dua korban jiwa yang tertimpa pohon besar. Di tempat lain, seorang korban mengalami patah kaki dan harus dirawat di RS Cilentah[7].

Korban jiwa juga jatuh saat runtunhnya bagian belakang gedung bioskop Orion di Jalan Kebonjati. Struktur bangunan bioskop tidak mampu menahan angin yang menghantamnya dan roboh dalam hitungan detik. Runtuhan bioskop sempat menimbun beberapa orang yang sedang berteduh di dalam bioskop. Lima orang berhasil diselamatkan, sementara seorang anak kecil berusia sekitar 9 tahun terseret ke Sungai yang sedang meluap dan ditemukan meninggal[8].

Kebocoran juga dialami di Gedung Gemeente-secretarie di Jalan Aceh Bandung. Air menetes dari atap ke meja rapat, membasahi dokumen dan agenda resmi, dan menggenangi ruangan rapat para dewan.  Sesudah masuk ke dalam ruangan, ketua dewan mengusulkan supaya para anggota dewan berkeliling kota untuk melihat dampak badai[9].

Dua jam berlalu, akhirnya badai mereda dan pelangi muncul jelas di langit senja. Saat malam tiba, keadaan sudah tampak tenang kembali. Peristiwa-peristiwa selama badai yang berlangsung dua jam itu, menjadi perbincangan orang-orang. Badai 25 Januari 1922 itu menjadi salah satu peristiwa cuaca paling dahsyat dalam sejarah Bandung, meninggalkan jejak kerusakan besar dan ingatan mendalam bagi warganya.

Catatan: Gambar fitur merupakan gambar ilustrasi, hasil generate AI.

Referensi:

[1] Noodweer. De Indische Courant. Edisi 26 Januari 1922.

[2] Noodweer in Bandoeng. De Indische Courant. Edisi 27 Januari 1922.

[3] Noodweer. De Preangerbode. Edisi 26 Januari 1922.

[4] Noodweer. De Preangerbode. Edisi 26 Januari 1922.

[5] Noodweer. De Preangerbode. Edisi 26 Januari 1922.

[6] Noodweer te Bandoeng. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 26 Januari 1922.

[7] Noodweer te Bandoeng. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 26 Januari 1922.

[8] Noodweer te Bandoeng. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 26 Januari 1922.

[9] Noodweer in Bandoeng. De Indische Courant. Edisi 27 Januari 1922.


Leave a Reply

Your email address will not be published.