Pada tahun 1913, bencana puting beliung terjadi di kawasan Ciumbuleuit Bandung. Kawasan ini berada sekitar 4 pal (sekitar 6 km) dari pusat kota. Peristiwa ini terjadi pada 26 Februari, sekitar jam 4 sore. Dalam laporan pertamanya, surat kabar De Preangerbode menyebut, bahwa peristiwa tersebut menghancurkan sebagian bangunan pabrik teh dan rumah administrator yang berada di dekat pabrik[1].
Perkebunan Ciumbuleuit berada di kawasan utara Bandung. Pengelolaannya berada di bawah sebuah perusahaan perkebunan yang berkedudukan di Den Haag, yang merupakan kelanjutan dari usaha-usaha perkebunan peninggalan pengusaha terkenal W. A. Baron Baud. Saat peristiwa terjadi, Ciumbuleuit dipimpin oleh H. C. Soeters Jr sebagai administrator atau direktur perkebunan. Pada tahun 1912, Ciumbuleuit mampu memproduksi sekitar 230.000,5 kg teh[2].

De Preangerbode mengatakan bahwa kejadian ini terlokalisasi di kawasan Ciumbuleuit dan Gegerkalong saja, tidak sampai ke daerah Banung yang lain. Angin datang dari arah barat Gegerkalong, kawasan sebelah barat laut Ciumbuleuit, menghancurkan sekitar 40-50 rumah penduduk.
Baca Juga: SAAT BANDUNG DISAPU BADAI BESAR
Sebelum menerjang pabrik, angin merubuhkan pagar batu setinggi dua meter. Angin besar tersebut kemudian memporakpondakan pabrik teh. Sebagian atap yang terbuat dari seng terbang ditiup angin sejauh puluhan meter ke udara. Dari kejauhan, angin terlihat seperti kolom berwarna hitam. Lembaran-lempengan seng itu terlihat melayang di udara seperti kertas koran tipis dan terkoyak-koyak[3].
Seorang karyawan bernama Bos menjadi saksi kejadian yang mengerikan tersebut. Ketika peristiwa terjadi, dia sedang berada di dalam pabrik. Dalam waktu singkat, semua yang ada di atasnya robek. Balok, rangka, dan atap runtuh di dekatnya. Meski demikian, ia berhasil selamat[4].
Dalam kejadian ini, gudang sortir dan gedung mesin masih selamat. Namun rumah trafo dan lorong di sepanjang gedung pabrik hancur. Kerugian ditaksir mencapai ribuan gulden[5].

Selain menerjang pabrik, angin juga menjadi sebab rusaknya rumah administrator yang berjarak 30 meter dari pabrik. Sebuah balok sepanjang 5 meter terbang dan jatuh di atap ruangan bagian belakang rumah. Langit-langit rumah terbuka karena angin menjatuhkan genteng-genteng. Hujan dapat masuk ke dalam rumah karena bagian atas bangunan sudah terbuka. Saat kejadian berlangsung, H. C. Soeters Jr sedang bekerja di sana dan istri bersama anak-anak berada di lorong bagian belakang. Semuanya selamat tanpa mengalami luka[6].
Baca Juga: ANGIN BESAR DI PASAR CIPARAY
Meskipun rumah mengalami kerusakan cukup parah, surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië menyebut bahwa bangunan itu sebenarnya beruntung tidak berada tepat di jalur pusat angin, sehingga masih selamat dan relatif utuh. Sebagai perbandingan, sebuah angin besar di Bandung bahkan sempat merobohkan sebuah pohon beringin beberapa bulan sebelumnya[7].
Untunglah, peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa[8].
Referensi:
[1] Wervelstorm. De Preangerbode. Edisi 26 Februari 1913.
[2] Wervelstorm. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 27 Februari 1913.
[3] Wervelstorm. De Preangerbode. Edisi 27 Februari 1913.
[4] Wervelstorm. De Preangerbode. Edisi 27 Februari 1913.
[5] Een windhoos. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 27 Februari 1913.
[6] Wervelstorm. De Preangerbode. Edisi 27 Februari 1913.
[7] Een windhoos. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 27 Februari 1913.
[8] Een wervelstorm in het Bandoengsche. Deli Courant. Edisi 28 February 1913.


Leave a Reply