Pemerintah Indonesia kembali menghidupkan wacana reaktivasi jalur kereta api Cipatat–Padalarang. Jalur yang telah berhenti beroperasi selama puluhan tahun itu kembali dilirik karena dinilai mampu membuka akses baru bagi mobilitas masyarakat di wilayah barat Bandung.
“Dengan hadirnya kembali jalur ini, warga bisa makin mudah bepergian dari Sukabumi maupun Cianjur ke Bandung atau sebaliknya. Perjalanan jadi lebih cepat, nyaman, dan bebas macet,” tulis Dinas Perhubungan Jawa Barat melalui akun Instagram @dishubjabar, Senin (8/12/2025)[1].
Harapannya, reaktivasi ini dapat meningkatkan mobilitas masyarakat secara keseluruhan, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pelaku UMKM, serta mengurangi beban kemacetan yang selama ini menumpuk di jalur darat, terutama di kawasan Padalarang. Selain membuka konektivitas baru, langkah ini juga dipandang berpotensi mengangkat sektor pariwisata di wilayah Jawa Barat[2].
Baca Juga: TEROWONGAN LAMPEGAN: ANTARA MAHAKARYA DAN JEJAK CERITA
Jalur Cipatat Padalarang merupakan bagian dari jalur kereta api Priangan yang dibangun pada medio 1878-1884[3]. Jalur sepanjang 183 km ini menghubungkan Stasiun Bogor Paledang dengan Stasiun Cicalengka. Jalur ini sempat menjadi jalur utama yang menghubungkan Batavia dengan bandung, dan kota besar lain di Pulau Jawa. Setelah perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) membangun jalur antara Karawang dan Padalarang melewati Purwakarta dan Sasaksaat, jalur lama ini perlahan ditinggalkan karena berbagai faktor.

Beberapa tahun terakhir, perlahan wacana perbaikan jalur kereta api antara Bogor dan Bandung kembali menyeruak. Pemerintah melalui perusahaan kereta api mulai mengaktifkan beberapa rangkaian kereta di jalur lama ini. Kereta api Pangrango[4] melayani relasi Bogor dan Sukabumi sejak tahun 2013. Sementara Kereta api Siliwangi[5] melayani jalur Sukabumi dan Cipatat sejak tahun 2014. Tinggal jalur antara Stasiun Cipatat dan Padalarang, melalui Stasiun Tagog Apu, yang belum diaktifkan karena beberapa kendala.
Faktor alam menjadi faktor dominan yang menyulitkan pembangunan kembali jalur ini. Jalur ini memiliki kemiringan yang curam, yang cukup menyulitkan perjalanan kereta api penumpang dan barang. Selain itu, jalur ini memiliki potensi besar untuk longsor[6].
Sejak masa kolonial, sudah tercetus ide untuk membuat jalur alternatif pengganti jalur yang sudah terbangun sejak 1884 itu. Salah satu ide sempat muncul di tahun 1915, yakni membuat jalur baru yang menyambungkan Stasiun Cipatat dengan Stasiun Sasaksaat[7]. Jika ditarik garis lurus, jarak antara kedua stasiun adalah 12 km.

Beratnya medan yang dilalui menjadi alasan utama munculnya ide pembangunan jalur potong ini. Kereta api dari Stasiun Cipatat, yang berada di ketinggian 387 meter di atas permukaan laut (mdpl) harus menanjak menuju Stasiun Padalarang yang ada di ketinggian 695 mdpl. Walaupun secara rata-rata, kereta api akan menanjak dengan kemiringan 18,7‰ (18,7 meter di setiap jarak 1000 meter, dengan asumsi kedua Jarak stasiun adalah 16,5 KM), namun ada kemiringan yang mencapai angka sampai 40‰ di sana.
Baca Juga: AMBISI MEMBUAT JALUR KERETA BANDUNG-CILETUH
Angka tersebut sudah dianggap cukup merugikan di masa kolonial. Dalam kondisi tersebut, kereta api tidak akan pernah mencapai kecepatan lebih dari 35 km/jam saja. Sebaliknya, kereta api akan melakukan setengah pengereman saat melalui turunan yang ekstrem tersebut[8].

Perhitungan ini membuat pihak SS melakukan kajian untuk melakukan jalur potong ke arah Stasiun Sasaksaat (541 mdpl). Jika misalnya mereka membangun jalur sepanjang 15 km antara kedua stasiun, maka kereta api akan menghadapi kemiringan sebesar 10‰ saja, sehingga perjalanan kereta menjadi lebih efisien. Sayangnya, wacana pembangunan ini tidak pernah terwujud di masa kolonial Belanda.
Hingga kini, satu abad kemudian, wacana jalur potong Cipatat–Sasaksaat hidup kembali seiring dorongan revitalisasi jalur kereta Priangan. Akankah wacana ini dapat terwujud?
Referensi
[1] Lihat link: https://www.instagram.com/reel/DR2FEdQDwnU
[2] https://www.cnbcindonesia.com/news/20251208104443-4-691985/titik-terang-jalur-ka-cipatat-padalarang-hidup-lagi-lewat-rute-baru
[3] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Halaman 72-91.
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Pangrango
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Siliwangi
[6] De afkortingslijn Tjipatat-Sasaksaät. Het Nieuws van den Dag. Edisi 18 Agustus 1915
[7] De afkortingslijn Tjipatat-Sasaksaät. Het Nieuws van den Dag. Edisi 18 Agustus 1915
[8] De afkortingslijn Tjipatat-Sasaksaät. Het Nieuws van den Dag. Edisi 18 Agustus 1915


Leave a Reply