Rencana reaktivasi jalur kereta api Bandung–Ciwidey kembali bergulir. Wacana ini digulirkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dalam wawancara di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (15/4/2025). Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan menyediakan moda transportasi yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Dedi melanjutkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk memaksimalkan potensi jalur kereta api yang sebelumnya tidak digunakan.[1] Selain jalur Bandung Ciwidey, ada bebebrapa jalur kereta api yang akan direaktivasi Kembali, seperti Banjar-Pangandaran, Garut-Cikajang, Bogor-Sukabumi-Cianjur, Padalarang-Cipatat, dan Rancaekek-Tanjungsari.
Wacana ini menggugah memori kolektif masyarakat Bandung, terutama para mantan pengguna kereta api dan masyarakat yang mendambakan kelancaran akses transportasi menuju Bandung selatan. Jalur sepanjang 40 kilometer ini pernah menjadi urat nadi transportasi Kawasan tersebut, sebelum akhirnya ditutup pada awal 1980-an.
Modernitas dan Tantangan Alam
Transportasi kereta api di Hindia Belanda hadir sebagai jawaban atas kebutuhan akan moda transportasi modern yang cepat dan murah. Jalur-jalur kereta dibangun untuk menghubungkan daerah pedalaman—yang menjadi pusat produksi barang ekspor—dengan pelabuhan-pelabuhan besar di pesisir. Di Priangan, pembangunan jalur kereta diarahkan untuk menyambungkan kawasan subur di pegunungan dengan Batavia, sebagai kota Pelabuhan terdekat.
Namun, pembangunan jalur kereta api di Priangan bukan perkara mudah. Sungai-sungai besar, lereng-lereng terjal, dan tanah berbukit menjadi rintangan alam yang tidak bisa diabaikan. Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, harus mengerahkan teknologi terbaru pada masanya demi menaklukkan medan sulit ini.
Gagalnya Perusahaan Swasta
Setelah Bandung tersambung dengan Batavia dan Surabaya, beberapa perusahaan swasta tertarik membangun jalur baru ke arah selatan. Salah satunya adalah Wijnkoopsbaai Exploratie-Maatschappij (WEM), yang bahkan merencanakan jalur kereta listrik antara Bandung dan Ciletuh. Sayangnya, seluruh rencana ambisius itu gagal terealisasi.
Baca Juga: Ambisi Membuat Jalur Kereta Bandung-Ciletuh
Akhirnya, SS sendiri yang mengambil alih proyek pembangunan jalur ke selatan. Dimulai pada tahun 1917, mereka membangun jalur sepanjang 40 kilometer untuk melayani mobilitas masyarakat dan angkutan hasil pertanian, dan komoditas teh dari perkebunan-perkebunan besar seperti Malabar, Arjasari, dan Ciwidey.

Dua Tahap Pembangunan
Pembangunan jalur Bandung–Ciwidey dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, antara tahun 1917–1921, menghubungkan Bandung, Dayeuhkolot, Banjaran, dan Soreang. Karena kontur yang relatif datar, pembangunan pada tahap ini berjalan lebih lancar.
Tahap kedua, yang jauh lebih menantang, berlangsung dari 1922 hingga 1924 dan menghubungkan Soreang dengan Ciwidey. Jalur ini menyusuri Sungai Ciwidey dan harus melewati tiga jembatan besar: Jembatan Sadu, Jembatan Ranca Goong, dan Jembatan Cikabuyutan.
Sebenarnya, proyek ini sempat diwarnai pemogokan para pekerja. Sejarawan Agus Mulyana menyebut bahwa pemogokan berkaitan dengan proses pembebasan tanah yang mengecewakan warga setempat. Untuk mengatasi hambatan ini, SS mendatangkan tenaga kerja dari Cirebon[2]. Beberapa kecelakaan kerja pun terjadi dan menewaskan pekerja. Namun, hambatan ini berhasil dilewati oleh SS.
Rute, Rencana, dan Realita
Secara berurutan, jalur Bandung–Ciwidey melintasi: Bandung, Cibangkonglor, Cibangkong, Buahbatu, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Kulalet, Pameungpeuk, Cikupa, Banjaran, Cangkuang, Citaliktik, Soreang, Sadu, Cukanghaur, Cisondari, dan Ciwidey.
Selain jalur utama itu, SS sempat membangun jalur Dayeuhkolot–Majalaya melalui Ciparay pada tahun 1921. Namun, jalur ini dibongkar saat pendudukan Jepang. Rencana lain untuk membangun jalur Banjaran–Pangalengan juga tak pernah terlaksana.

Layanan yang Berhenti
Setelah lebih dari 50 tahun melayani angkutan dan mobilitas, jalur Bandung–Ciwidey akhirnya ditutup pada awal 1980-an. Penutupan ini menjadi bagian dari tren lebih luas di Jawa Barat, di mana banyak jalur percabangan yang tak lagi menguntungkan dihentikan operasinya. Jalur Banjar–Pangandaran dan Cibatu–Garut–Cikajang ditutup dalam periode yang hampir bersamaan.
Penutupan jalur Bandung–Ciwidey sering dikaitkan dengan kecelakaan di Cukanghaur pada tahun 1972 yang menewaskan kepala stasiun Ciwidey dan seorang masinis.
Baca Juga: Kecelakaan Kereta Api di Cukanghaur
Kecelakaan tersebut hanyalah salah satu penyebab dari ditutupnya jalur ini. Penyebab lainnya adalah kalahnya daya saing kereta api dibandingkan kendaraan jalan raya yang lebih fleksibel dan menjangkau langsung titik tujuan. Perubahan arah pembangunan ekonomi nasional setelah kemerdekaan juga berpengaruh. Sektor perkebunan yang dahulu mendominasi menjadi berkurang pentingnya, membuat banyak jalur simpangan kehilangan fungsinya[3].
Dalam rangka efisiensi dan penghematan anggaran, perusahaan kereta api pun menutup jalur-jalur dengan tingkat okupansi rendah, termasuk Bandung–Ciwidey.
Harapan Baru
Kini, puluhan tahun setelah rel-rel itu tak lagi dilewati lokomotif, upaya reaktivasi jalur Bandung–Ciwidey membuka babak baru dalam sejarah perkeretaapian Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat melalui Gubernur Dedi Mulyadi sudah mengisyaratkan adanya reaktivasi beberapa jalur kereta api lama, termasuk di dalamnya, jalur Bandung Ciwidey.
Reaktivasi ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan upaya merekatkan kembali jejak sejarah dengan kebutuhan masa kini. Bila berhasil, kereta kembali akan melintasi jalur berliku antara Bandung dan Ciwidey, membawa serta kenangan masa lalu dan semangat baru untuk masa depan.
Gambar: Halte Buah Batu, koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen.
Referensi:
[1] Syafei, Faqih Rohman. Dedi Mulyadi Akan Aktifkan Lagi Sejumlah Jalur KA di Jabar, Mana Saja?. Kompas. Link: https://bandung.kompas.com/read/2025/04/15/222659778/dedi-mulyadi-akan-aktifkan-lagi-sejumlah-jalur-ka-di-jabar-mana-saja. (Diakses 18 April 2025)
[2] Agus Mulyana. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Hal.191
[3] Tim Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretaapian Indonesia (Bandung: CV. Angkasa, 1997), jilid 2, 429.


Leave a Reply