P. A. ROELOFSEN: Menolak Berkantor di Gedung Sate

P. A. ROELOFSEN: Menolak Berkantor di Gedung Sate

Pada 2 Juli 1920, Piet Antoni Roelofsen diangkat sebagai Direktur Departement van Gouvernements Bedrijven (DGB), menggantikan R. Kat yang akan mengambil cuti ke Eropa. Sesuai ketentuan, posisi direktur tidak boleh kosong atau dijabat oleh caretaker, sehingga pengangkatan Roelofsen dilakukan segera[1]. Lulusan Politeknik Delft ini pun harus meninggalkan Bandung dan bertugas di kantor pusat DGB di Weltevreden, Batavia.

Namun kepindahan Roelofsen ke Batavia tidak berlangsung lama. Pemerintah Hindia Belanda segera merencanakan pemindahan pusat kegiatan DGB ke Bandung, demi mendekatkan koordinasi antar instansi pemerintah yang mulai tumbuh pesat di kota dataran tinggi tersebut. Di kawasan utara Bandung, mereka mempersiapkan kompleks perkantoran baru. Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Juli 1920, yang menandai awal pembangunan sebuah gedung megah yang kelak dikenal sebagai Gedung Sate, lengkap dengan bangunan sayap bagian timur.

Baca JugaP. A. ROELOFSEN: Dari Lapangan Bola Sampai Gedung Sate

Selama proses pembangunan berlangsung, kegiatan DGB dipindahkan ke Bandung dan untuk sementara menempati bangunan bekas Grand Hotel di kawasan Kebon Karet. Bangunan yang beralamat di Landraadweg (Jalan Perintis Kemerdekaan, sekarang) itu sudah diambil alih pemerintah sejak 1920, dan awalnya direncanakan akan dijadikan Staatsspoorwegen Hotel (Hotel SS) setelah Gedung Sate rampung[2].

Namun nampaknya, rencana tersebut dimajukan, sehingga Hotel SS diresmikan di pergantian tahun, tepatnya 1 Januari 1921. Untuk dapat tinggal di sana, para pegawai negeri sipil yang tinggal di sana membayar biaya kamar sebesar 3 hingga 9 gulden per hari, tergantung pada besarnya gaji mereka. Sementara itu, Roelofsen dan jajaran staf senior DGB menempati gedung utama yang telah dilengkapi dengan sambungan telepon antar-departemen dan koneksi komunikasi langsung ke Batavia serta kota-kota lainnya[3].

Namun konsep bisnis hotel tersebut tidak berjalan mulus. Tidak tercapainya target pemasukan menjadi salah satu alasan Hotel SS akhirnya ditutup[4].  Surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië melaporkan bahwa bangunan hotel itu akan sepenuhnya dialihfungsikan menjadi kantor bagi Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik negara[5].

Pemanfaatan bangunan eks-Hotel SS sebagai kantor pusat SS ini tidak lepas dari kenyataan bahwa gedung yang khusus dirancang untuk SS belum juga dibangun pada 1923[6]. Sementara itu, SS juga sedang menyiapkan pemukiman untuk para pegawainya. Pada awal tahun itu, SS memesan sekitar 365 rumah dinas kepada pemerintah kota Bandung, yang akan digunakan secara bertahap untuk menampung gelombang kedatangan staf baru[7].

Baca Juga: Cisurupan, Saat Balai Besar Kereta Api Mengungsi di Masa Revolusi (Kereta Garut Bag. 8)

Pada 1924, peningkatan jumlah pegawai SS di Bandung mulai menimbulkan persoalan. W. F. Staargaard, pimpinan SS, merasa risau karena Roelofsen dan staf DGB masih menempati bangunan di Landraadweg yang sebenarnya telah dialokasikan untuk SS. Mereka enggan pindah ke Gedung Sate, meskipun bangunan itu memang dirancang khusus untuk DGB[8].

Meski sama-sama lulusan Politeknik Delft, Staargaard yang memiliki jabatan lebih rendah merasa sungkan untuk mendesak Roelofsen secara langsung. Akhirnya ia meminta bantuan kepada Commissie van Bijstand[9], sebuah komite yang dibentuk untuk membantu SS dalam urusan administrasi, anggaran, dan perencanaan tahunan. Komite ini didirikan pada Mei 1924 dan memiliki akses penuh terhadap dokumen serta kegiatan SS[10].

Dalam sebuah jamuan makan malam resmi yang dihadiri oleh Roelofsen, para pegawai SS, dan anggota komite, Staargaard menyampaikan pidato yang diselipi curahan hati terkait situasi ini. Ia berharap komite dapat menggunakan pengaruhnya untuk membujuk Roelofsen agar segera pindah ke Gedung Sate — gedung baru yang indah dan memang disiapkan bagi DGB[11].

Baca JugaAyunan Sekop Perak: Awal Berdirinya Gedung Sate

Roelofsen pun merespons secara bersahaja. Di hadapan hadirin, pria kelahiran Tulungagung itu menyatakan dengan tenang bahwa Tuan Staargaard akan segera memperoleh bangunan di Kebon Karet untuk digunakan sebagai kantor SS[12].

Ucapan tersebut menandai akhir dari polemik ruang antara DGB dan SS. Tidak lama kemudian, Roelofsen dan stafnya meninggalkan kantor sementara di Landraadweg, dan resmi menempati Gedung Sate yang telah lama menanti penghuninya.

Referensi:
[1] De nieuwe Directeur van Gouvernements Bedrijven. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 29 juni 1920

[2] BEDRIJVEN. De Preangerbode. Edisi 24 November 1920.

[3] Opening S.S.-Hotel Bandoeng. Bataviaasch Nieuwsblad. Edisi 3 Januari 1921

[4] De S. S.-hotels. De Sumatra post. Edisi 31 Juli 1923

[5] Het hotel-bedrijf van de S.S. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 18 Juli 1923.

[6] De Overgang der S.S. naar Bandoeng. Bataviaasch nieuwsblad.Edisi 9 Agustus 1923.

[7] WONINGBOUW S.S. EN TR. Algemeen Indisch Dagblad de Preangerbode. Edisi 1 April 1931. Halaman 37.

[8] Van den Dag. De Preanger-bode. Edisi 16-07-1924

[9] Van den Dag. De Preanger-bode. Edisi 16-07-1924

[10] De Commissie van Bijstand voor de S.S. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 8 Mei 1924

[11] Van den Dag. De Preanger-bode. Edisi 16-07-1924

[12] Van den Dag. De Preanger-bode. Edisi 16-07-1924


Leave a Reply

Your email address will not be published.