Jalan Suniaraja merupakan salah satu jalan tua di pusat Kota Bandung. Pada awal abad ke-20, jalan ini sudah menjadi penghubung penting antara Jalan Braga dengan Pasar Baru dan Stasiun Bandung. Namun, sebelum ada perbaikan tata kota, rute menuju Jalan Braga dari arah Pasar Baru tidaklah lurus seperti sekarang.
Dari Pasar Baru menuju Jalan Braga, kita harus melalui Suniarajaweg dan Landraadweg, menyeberangi rel kereta api serta melintasi jembatan di atas Sungai Ci Kapundung. Dari perempatan Logeweg (Jalan Wastukencana, sekarang), perjalanan kemudian berbelok ke selatan, kembali melewati rel kereta api di samping Gudang Java Veem, dan baru bertemu pertigaan antara Bragaweg dan Oud Hospitaalweg (Jalan Lembong, sekarang).

Perjalanan ini terasa panjang dan memutar, belum lagi berisiko karena harus melewati dua lintasan kereta api. Situasi inilah yang mendorong pemerintah Kota Bandung untuk merancang rute penghubung baru yang menghubungkan langsung antara Jalan Suniaraja dan Jalan Braga. Selain memperpendek jarak, proyek ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Landraadweg secara signifikan. Pemerintah kota meyakini, proyek ini akan menjadi langkah penting bagi masa depan transportasi Bandung[1].
Pembangunan jalan baru ini bermula dari Gang Affandi, sebuah gang sempit yang terletak di samping gedung Firma Naessens, seberang mulut Oud Hospitaalweg. Di balik kampung tempat gang ini berakhir, terbentang tanah lapang luas hingga ke tepi Sungai Ci Kapundung[2].
Dalam rencana tata kota, Gang Affandi akan diperpanjang menembus kampung kecil, melintasi lapangan itu, menyeberangi sungai, dan berujung di Jalan Suniaraja, tepat di lokasi yang pada masa itu dikenal sebagai tempat mangkal taksi. Jalan baru tersebut dirancang sepanjang 18 meter, cukup lebar untuk menampung lalu lintas kota yang semakin padat[3].

Sejak awal, proyek ini telah masuk dalam perencanaan resmi pemerintah Hindia Belanda. Berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 31 Maret 1930 No. 11, pemerintah memberikan subsidi sebesar 98.000 gulden untuk proyek pembukaan jalan Gang Affandi. Namun, rencana teknis jembatan Cikapundung yang menjadi bagian penting proyek tersebut belum diserahkan, sehingga penilaian teknis tidak dapat dilakukan. Akibatnya, anggaran sementara sebesar sekitar 37.000 gulden untuk jembatan dicoret dari daftar anggaran[4].
Rencana ini sejatinya tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan proyek besar lain, yakni pembangunan boulevard yang akan menghubungkan Landraadweg dengan Grote Postweg[5]. Boulevard ini kita kenal sebagai Cikapundung Boulevard, seperti yang ditulis oleh Haryoto Kunto dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya[6].
Baca Juga: JEMBATAN VIADUCT: Penjaga di Tengah Kota
Namun, kondisi ekonomi yang sulit pada awal 1930-an mengubah segalanya. Pada Agustus 1932, pemerintah kolonial mengumumkan bahwa subsidi yang telah dijanjikan tidak dapat dicairkan, dengan alasan penghematan akibat resesi global kala itu. Dengan keputusan itu, rencana pembangunan jalan penghubung langsung antara Oud Hospitaalweg dan Suniarajaweg harus ditangguhkan untuk waktu yang tidak ditentukan[7].

Setelah hampir satu dekade tertunda, pembangunan jalan ini akhirnya mendekati selesai pada 1940. Namun, penyelesaiannya justru menimbulkan dampak sosial yang tidak kecil. Seperti yang ditulis di atas, jalan tembus ini melewati perkampungan di Gang Affandi. Keberadaan jalan ini membuka pemandangan perkampungan yang sebelumnya tersembunyi.
Hal ini sangat disayangkan oleh penulis di koran Het Nieuws van den Dag, karena pemandangan perkampungan di pinggir jalan dianggap sebagai pemandangan yang merusak keindahan kota oleh sebagian warga Eropa di Bandung. Sang penulis yakin, bahwa perkampungan tersebut akan dihilangkan[8].

Sang penulis yakin setelah mengutip dari sebuah artikel di rubrik Brieven van de Hoogvlakte (Surat dari Dataran Tinggi) di surat kabar Onze Courant, yang menyebutkan daerah-daerah yang merusak pemandangan kota harus segera dihilangkan. Artikel tersebut menyebut pemandangan gubuk-gubuk reyot di belakang Braga sebagai sesuatu yang tidak layak untuk dilihat.[9] Secara perlahan, rumah-rumah di sekitar Jalan Suniaraja yang baru dibongkar dan berganti dengan bangunan baru.
Kini, hanya sedikit yang tahu bahwa di balik jalan ini tersimpan kisah panjang tentang perubahan wajah kota Bandung di masa kolonial.
Referensi:
[1] Twee Doorbraken. Het Nieuws van den Dag. Edisi 8 Maret 1939.
[2] Twee Doorbraken. Het Nieuws van den Dag. Edisi 8 Maret 1939.
[3] Twee Doorbraken. Het Nieuws van den Dag. Edisi 8 Maret 1939.
[4] Gemeente Bandoeng. De Koerier. Edisi 31 Juli 1931.
[5] Gemeente Bandoeng. De Koerier. Edisi 31 Juli 1931.
[6] Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung: PT. Granesia. Halaman 812-814.
[7] Bezuiniging in Bandoeng. Het Nieuws van den Dag. Edisi 5 Agustus 1932.
[8] De Stadskampongs. Het Nieuws van den Dag. Edisi Het Nieuws van den Dag.
[9] De Stadskampongs. Het Nieuws van den Dag. Edisi Het Nieuws van den Dag.


Leave a Reply