EVOLUSI STASIUN KARAWANG

EVOLUSI STASIUN KARAWANG

Kabupaten Karawang menempati posisi yang strategis baik secara politik maupun ekonomi. Secara politik, Karawang menjadi wilayah konflik antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang berpusat di Batavia dan Kesultanan Mataram yang berpusat di pedalaman Jawa bagian tengah. Keduanya dipisahkan oleh Sungai Citarum. Menurut Graaf[1], Mataram berkepentingan untuk memperluas wilayah kekuasaan, terutama daerah pantai utara Jawa. Sementara itu, VOC berupaya menguasai Karawang sebagai langkah memperluas pengaruhnya sekaligus menjadikan wilayah ini sebagai pintu masuk menuju daerah-daerah penting di pantai utara Jawa bagian timur, seperti Jepara.

Secara geografis, Karawang terletak di pesisir Laut Jawa dan menjadi muara bagi sejumlah sungai besar. Letak ini menjadikan Karawang bagian dari jalur perdagangan penting yang menghubungkan Jepara (pelabuhan Mataram), Cirebon, Karawang, dan Batavia sejak abad ke-16. Kapal-kapal dagang dan patroli kerap bersandar di pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di Karawang[2].

Gudang Kopi di Pelabuhan Cikao, pertengahan abad 19. Koleksi KITLV.

Di bagian selatan, Karawang memiliki pelabuhan penting di Cikao. Pelabuhan ini menjadi titik penghubung antara daerah pedalaman dan kawasan pesisir. Pada abad ke-17, pelabuhan ini menjadi salah satu titik pemberangkatan komoditas kopi yang berasal dari daerah Priangan[3].

Namun, seiring meningkatnya kebutuhan ekspor hasil bumi pada akhir abad ke-19, sistem transportasi tradisional seperti perahu dan jalan darat tidak lagi memadai. Keterbatasan daya angkut dan kecepatan alat transportasi lama mendorong pihak swasta dan pemerintah untuk mengembangkan jaringan kereta api sebagai solusi bagi masalah transportasi saat itu[4].

Baca jugaKISAH JEMBATAN KERETA: DARI TANJUNGPURA KE CIWIDEY

Kereta api mulai memasuki wilayah Karawang melalui perusahaan Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij (BOSM). Perusahaan ini mendapat izin untuk membangun jalur kereta antara Batavia dan Bekasi, yang mulai dioperasikan pada 31 Maret 1887[5].

Pada tahun 1895, BOSM kembali mengajukan konsesi untuk memperpanjang jalur kereta hingga Kedunggedeh dan Karawang. Pengajuan ini dilandasi kebutuhan ekonomi, yaitu untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi dari Karawang menuju Bekasi. Sebelum ada jalur rel, hasil bumi dari Karawang diangkut menggunakan perahu menyusuri Sungai Citarum menuju Stasiun Kedunggedeh, lalu diteruskan dengan kereta api[6].

Peta jalur kereta api lama di sekitar Stasiun Karawang, tahun 1914. Sumber: Leiden University Libraries

Selain alasan ekonomi lokal, pembangunan jalur antara Bekasi dan Karawang juga didorong oleh ambisi pemerintah kolonial untuk menghubungkan Batavia dan Semarang melalui jalur utara yang melewati Karawang[7].

Konsesi pembangunan jalur tersebut dikeluarkan oleh pemerintah melalui Gouvernements Besluit tanggal 10 Desember 1895 No. 19. Salah satu tantangan teknis dalam proyek ini adalah pembangunan jembatan kereta api di atas Sungai Citarum. Akhirnya, jalur tersebut berhasil diselesaikan dan Stasiun Karawang lama diresmikan pada 20 Maret 1898[8].

Peta rencana pembangunan jalur kereta api baru di sekitar Stasiun Karawang. Sumber: Spoor En Tramwegen 14-Daagsch Tijdschrift Voor Het Spoor- Tramwegwezen In Nederland En Indie, tahun 1931.

Pada awalnya, jalur utara Jawa Barat memang tidak menjadi prioritas pembangunan pemerintah kolonial. Pemerintah lebih memilih membangun jalur yang menghubungkan Batavia dengan wilayah tengah dan timur Pulau Jawa melalui jalur pegunungan. Mereka beranggapan bahwa wilayah pantai utara belum memenuhi syarat kelayakan pembangunan. Karena itulah inisiatif pembangunan di kawasan ini sebagian besar dilakukan oleh pihak swasta[9].

Namun, pada tahun 1898, jalur Batavia–Karawang diambil alih oleh perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen (SS). Pemerintah mengakuisisi perusahaan BOSM dan jalurnya sepanjang 64 km dengan nilai 5 juta gulden[10]. Setelah proses akuisisi rampung, SS melanjutkan pembangunan jalur kereta Batavia–Bandung melalui Purwakarta dan Padalarang[11].

Peta stasiun letak stasiun Karawang lama dan stasiun baru. Sumber: Spoor En Tramwegen 14-Daagsch Tijdschrift Voor Het Spoor- Tramwegwezen In Nederland En Indie, tahun 1931.

Tahun 1901, SS memulai pembangunan jalur baru dari Karawang ke Padalarang. Jalur ini dibuka secara bertahap pada tahun 1902 dan 1906, melewati daerah Cikampek dan Purwakarta. Pada tahun 1916, SS juga membangun jalur simpangan dari Stasiun Karawang lama menuju daerah-daerah sekitar seperti Rengasdengklok dan Wadas. Jalur ini menggunakan lebar rel sempit (600 mm) dan digunakan untuk mengangkut penumpang, serta hasil bumi seperti padi, beras, dan ikan[12]. Kawasan-kawasan tersebut saat itu telah padat dihuni oleh penduduk pribumi dan komunitas Tionghoa.

Seiring meningkatnya aktivitas penumpang dan bongkar muat barang, bangunan dan halaman Stasiun Karawang lama tidak lagi memadai. Situasi ini mendorong SS untuk membangun stasiun baru yang letaknya tidak jauh dari stasiun lama[13].

Peta jalur kereta api baru di sekitar Stasiun Karawang, tahun 1938. Sumber: Leiden University Libraries

Pembangunan stasiun baru juga menjadi bagian dari perbaikan jalur kereta yang melewati Kota Karawang. Jalur lama memiliki tikungan tajam di dekat stasiun, yang mengharuskan lokomotif—terutama yang tidak berhenti—untuk menurunkan kecepatan saat melintas. SS kemudian membangun jalur baru yang lurus dan mendirikan bangunan stasiun yang lebih besar serta lengkap. Bangunan baru Stasiun Karawang ini diresmikan pada 28 Oktober 1930[14].

Gambar: Stasiun Karawang sekarang. Koleksi Hamas Fathani/Wikipedia

Sumber:

[1] De Graaf, H.J. 2002. Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Grafitipers & Koninklijk Instituut Voor Taal Land En Volkenkund (KITLV). Hal. 224–226, 231.

[2] Inagurasi, Libra Hari. 2016. Arti Penting Situs-Situs Pelabuhan Kuna di Karawang, Jawa Barat, Sebagai Jalur Transportasi (The Significance of Ancient Port Sites in Karawang as Transportation Routes in West Java). PURBAWIDYA Vol. 5, No. 2, November 2016. Hal. 127-128

[3] Breman, Jan. 2014. Keuntungan Kolonial dari kerja paksa;Sistem Priangan dari tanam paksa kopi di Jawa, 1720-1870. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 65

[4] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Hal. 2

[5] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Hal. 115

[6] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Hal. 115

[7] Reitsma, S. A. 1912. Eenige bladzigen: Indische spoorwegpolitiek (de lijn langs Java’s noordkust). Tegal: J. D. De Boer. Hal. 8.

[8] Perquin, B.L.M.C. 1921. Nederlandsch Indische staatsspoor- en tramwegen. Bureau Industria. Hal. 32.

[9] Reitsma, S. A. 1912. Eenige bladzigen: Indische spoorwegpolitiek (de lijn langs Java’s noordkust). Tegal: J. D. De Boer. Hal. 5.

[10] Reitsma, S.A. 1925. Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch Indie 1875-1925. Weltevreden. Hal. 206.

[11] Sissingh, J.G. 1931. Het nieuwe Emplacement Krawang in de Lijn Meester Cornelis-Tjikampek. Spoor En Tramwegen 14-Daagsch Tijdschrift Voor Het Spoor- Tramwegwezen In Nederland En Indie. Edisi 13 Oktober 1931. Hal. 203.

[12] De nieuwe Tram Tjikampek-Tjilamaja. 1909. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. Edisi 24 Juli 1909.

[13] Lokasi stasiun sekarang ada di Jl. Arif Rahman Hakim, Nagasari, Karawang Barat, Karawang.

[14] Sissingh, J.G. 1931. Het nieuwe Emplacement Krawang in de Lijn Meester Cornelis-Tjikampek. Spoor En Tramwegen 14-Daagsch Tijdschrift Voor Het Spoor- Tramwegwezen In Nederland En Indie. Edisi 13 Oktober 1931. Hal. 206.


Leave a Reply

Your email address will not be published.