Di tengah Kota Garut, sebuah bangunan dengan gaya kolonial masih tegak berdiri. Bangunan kokoh yang terletak di belokan Jalan Bank dan Jalan Veteran ini pernah menjadi markas salah satu organisasi kepemudaan, sehingga warnanya sempat disesuaikan dengan warna dasar organisasi tersebut. Meskipun begitu, keindahan arsitektur kolonialnya tetap terlihat, meski sempat tertutup oleh warna-warna mencolok.
Di belakang bangunan ini, masyarakat memanfaatkan lahannya untuk kegiatan ekonomi. Pasar Mawar, begitu masyarakat Garut menyebutnya, berdiri di sisi Jalan Mawar. Para pedagang berdesakan dengan tenda-tenda yang menutupi area sekitar, menciptakan suasana pasar yang ramai dan padat. Namun, keberadaan pasar ini tak lepas dari perubahan besar yang terjadi di kawasan tersebut, terutama setelah penutupan jalur kereta api Cibatu-Garut-Cikajang pada awal 1980-an. Stasiun Garut yang dulunya menjadi pusat aktivitas transportasi, perlahan mati suri. Tanpa aktivitas kereta, masyarakat mengubah wajah stasiun dan sekitarnya menjadi tempat kegiatan ekonomi.

Namun, perubahan kembali terjadi pada akhir 2019 ketika rencana reaktivasi jalur kereta api mulai diwujudkan. PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) berupaya mengembalikan fungsi Stasiun Garut seperti sediakala, membersihkan area sekitar, membongkar tenda-tenda pasar, dan mengecat kembali bangunan stasiun dengan warna dasar putih. Dalam proyek ini, PT KAI tetap mempertahankan bentuk asli stasiun dan membangun stasiun baru di sisi barat stasiun lama, serupa dengan yang dilakukan di Stasiun Pasir Jengkol dan Stasiun Wanaraja.
Menurut Michiel van Ballegoijen de Jong, Stasiun Garut yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1949[1]. Ini menunjukkan bahwa stasiun ini bukanlah bangunan asli pertama. Stasiun Garut pertama kali dibangun pada periode 1887-1889, seiring dengan pembangunan jalur kereta api Cicalengka-Garut. Namun, perubahan besar terjadi di masa revolusi kemerdekaan Indonesia, yang turut memengaruhi keberadaan infrastruktur perkeretaapian di Garut.
Pada periode tersebut, ketegangan meningkat di Jawa Barat setelah Indonesia merdeka. Melalui Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA), Belanda berupaya merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah mereka kuasai. Kota Garut pun menjadi salah satu tempat strategis, terutama setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Saat itu, pemerintahan Kota Bandung di bawah Wali Kota Syamsuridzal sempat mengungsi ke Garut. Pusat kegiatan kereta api Indonesia di bawah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) juga dipindahkan ke Cisurupan, sebuah kota di selatan Garut.
Namun, upaya mempertahankan Garut dari tangan Belanda berakhir pada 21 Juli 1947 ketika tentara Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama. Pasukan Belanda berhasil masuk ke Garut melalui Japati dan Cikajang, sementara pasukan payung mereka diterjunkan di Lapang Jayaraga. Setelah beberapa titik strategis di Garut dibombardir, Belanda akhirnya menguasai kota pada 10 Agustus 1947[2].
Dalam perlawanan melawan Belanda, para pejuang Republik Indonesia menerapkan strategi bumi hangus. Mereka membakar fasilitas penting untuk mencegah penggunaannya oleh Belanda[3]. Beberapa bangunan yang dibakar termasuk Hotel Papandayan, Hotel Ngamplang, dan sumber-sumber persediaan minyak[4]. Salah satu fasilitas yang ikut dibakar adalah Stasiun Garut, yang dihancurkan pada 9 Agustus 1947[5].
Hingga kini, belum ditemukan sumber pasti mengenai siapa yang membangun kembali Stasiun Garut setelah kehancuran tersebut. Namun, berdasarkan kronologi sejarah, kemungkinan besar stasiun ini dibangun kembali oleh pihak Belanda sebelum mereka akhirnya meninggalkan Indonesia. Stasiun ini kembali difungsikan pada 1949, dan sejak itu terus menjadi bagian penting dari sistem transportasi di Garut.
Reaktivasi jalur kereta api pada 2019 bukan hanya menghidupkan kembali Stasiun Garut, tetapi juga mengembalikan perannya sebagai pusat transportasi seperti di masa lampau. Kini, dengan wajah yang lebih bersih dan tertata, Stasiun Garut kembali menjadi saksi perjalanan sejarah kota ini, dari masa kolonial hingga era modern.
Disclaimer: Tulisan ini ditulis sebelum jalur kereta api antara Cibatu dan Garut diaktifkan. Saat tulisan ini dipublish, bangunan stasiun lama Garut tetap berdiri di samping bangunan baru stasiun Garut yang memiliki desain lebih modern. Gambar: KITLV
Baca juga:
Kereta Api Cibatu-Garut, Reaktivasi yang Layak Dirayakan (Kereta Garut Bag. 1)
Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu (Kereta Garut Bag. 2)
Dari Cicalengka, Perjuangan Melawan Ilusi (Kereta Garut Bag. 3)
Kemeriahan Pembukaan Jalur KA Cicalengka Garut (Kereta Garut Bag. 4)
Bintang Penghargaan Buat Pembuat Jalur Cicalengka-Garut (Kereta Garut Bag. 5)
Berziarah ke Mecca of Mallet (Kereta Garut Bag. 6)
Charlie Chaplin, dan Janji yang Tidak Pernah Ditepati (Kereta Garut Bag. 7)
Cisurupan, Saat Balai Besar Kereta Api Mengungsi di Masa Revolusi (Kereta Garut Bag. 8)
Cikajang, Nasib Stasiun Tertinggi di Indonesia (Kereta Garut Bag. 9)
Wacana Lama Jalur Malangbong-Cirebon (Kereta Garut Bag. 10)
Garut Pangirutan, Menunggu Akses Transportasi yang Lebih Baik (Kereta Garut Bag. 11)
Oleh Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api, penyuka Sejarah Kota Bandung, founder simamaung.com, aktif di media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @pahepipa.
[1] de Jong, Michiel van Ballegoijen. 1933. Spoorwegstations op Java. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw. Halaman 134.
[2] Sofianto, Kunto. 2011. Garoet Kota Intan. Jatinangor: Alqaprint. Halaman 102.
[3] Sofianto, 2011: 103.
[4] Sufianto, Kunto. 2017. Garut City People In The Time Of Indonesia’s Independence. Bandung:Departemen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses 5 Februari 2020.
[5] Ekadjati, D. Edi S, dkk. 1981. Sejarah Kota Bandung Periode Revolusi Kemerdekaan 1945-1950, Bandung: Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung, Kerja sama dengan Universitas Padjadjaran. Halaman 312.


Leave a Reply