Orang Belanda memulai aktivitas keseharian mereka di jam 6 pagi. Di jam tersebut, mereka menikmati sarapan sebelum melakukan kegiatan rutin setiap hari. Susu segar merupakan salah satu item yang harus selalu ada di menu sarapan mereka. Kebiasaan ini mendorong para distributor susu untuk dapat menyediakan susu segar sebelum jam 6 pagi.
Perusahaan peternakan dan pemerahan susu sapi merupakan perusahaan yang bertahan di tengah badai krisis tahun 1930-an. Mereka dapat bangkit dan kembali memenuhi kebutuhan susu di Hindia Belanda.

Di Bandung, para pengusaha susu mendirikan BMC – Bandoengsche Melk Centrale (BMC) di tahun 1932. Pendirian BMC didorong oleh munculnya persaingan harga susu sapi yang mengancam keberlangsungan para pengusaha kecil, sekitar tahun 1930-an. Keberadaan BMC berhasil menstabilkan harga susu sapi di Bandung saat itu. Para peternak cukup fokus pada bagian pemeliharaan sapi dan produksi susu dan tidak lagi memikirkan masalah distribusi.
Priangan sudah menjadi penghasil susu sapi sejak abad 18. Dalam tulisan di buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto mengutip catatan Heeren Medici yang melakukan perjalanan dari Bandung menuju Batavia di sekitar tahun 1786. Saat itu, Medici membawa sebotol susu untuk sarapan. Perjalanan yang sangat berat mengocok susu yang dibawa. Sampai di Rajamandala, Medici mendapatkan susu tersebut sudah berubah menjadi butiran-butiran keju dan mentega.

Peternakan sapi penghasil susu mulai berkembang di Bandung, awal abad 20. Beberapa peternakan terkenal mulai muncul seperti General de Wet, Lembangsche Melkerij Ursone, dan De Friesche Terp. Di tahun 1932, ada 23 perusahaan susu sapi yang mendukung berdirinya BMC.
Selain menjadi pusat distribusi susu sapi untuk memenuhi kebutuhan susu di Bandung, BMC mendistribusikan susu sampai Batavia. Posisi Batavia di tepi laut dan mempunyai udara yang panas tidak memungkinkan bagi tumbuhnya peternakan sapi perah. Hanya ada beberapa perusahaan dan peternakan kecil di sana dan mereka tidak mampu menutupi kebutuhan susu sapi.

Distribusi susu sapi sangat terbantu oleh adanya teknologi instalasi pendingin. Pendingin dapat memperpanjang “usia” susu sapi, yang biasanya hanya bisa bertahan selama satu hari saja. Keberadaan instalasi pendingin ini memungkinkan BMC untuk mengirimkan susu sapi ke Batavia. Dengan truk yang dipasang pendingin, BMC mengirimkan susu sapi segar ke kota yang berjarak 170 KM.
Baca juga: 45 Menit Bandung-Batavia, di Masa Kolonial
Truk pengirim susu berangkat dari Kota Bandung jam 20.00 dan tiba di Batavia jam 2.30 pagi. Susu yang dimasukan ke dalam truk mempunyai suhu sekitar 4 derajat celcius. Setelah melewati perjalanan selama enam setengah jam, suhunya meningkat sedikit menjadi hanya 9 derajat celcius.
Di Batavia, perusahaan bernama Moderna menjadi penerima susu dari Bandung. Mereka mengemas susu-susu tersebut dalam botol-botol sebelum didistribusikan.
Para pengantar mendistribusikan botol-botol yang berisi susu menggunakan sepeda. Botol-botol itu sudah ada di depan rumah pelanggan, sebelum jam sarapan, jam 6 pagi.

Di tahun 1936 Moderna memperluas jangkauan pasarnya dengan memproduksi susu yang dikemas dalam botol 250 ml. Selain menjual susu murni, mereka memasok susu coklat yang dilengkap dengan sedotan yang higienis. Terobosan ini mendapat sambutan yang luar biasa, karena anak-anak yang tidak suka susu. Varian rasa coklat dan sedotan menjadi daya tarik tersendiri buat mereka.
Disadur dari majalah Nederlandsch weekblad voor zuivelbereiding en -handel No. 51. Selasa, 23 Maret 1937.


Leave a Reply