SEPOTONG KISAH MURAM DI PASAR ANDIR

SEPOTONG KISAH MURAM DI PASAR ANDIR

Pasar Andir berada di bagian barat Kota Bandung, tepatnya di sekitar Jalan Waringin dan Jalan Jenderal Sudirman. Pasar ini merupakan salah satu pusat ekonomi di Kota Bandung, selain Pasar Baru, Pasar Kosambi, dua pasar Induk di Gedebage dan Caringin, dll.

Nama “Andir” sendiri memiliki akar sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Menurut Kamus Bahasa Sunda yang disusun oleh R.A. Danadibrata, kata andir berarti tukang yang mengurus jalan di desa atau kota pada zaman dahulu. Keberadaan daerah bernama Andir biasanya berada di tepi jalan utama. Di Kota Bandung, nama Andir tercatat di beberapa lokasi, termasuk yang kini dikenal sebagai Pasar Andir serta Andir di dekat Ujungberung, wilayah timur kota.

Kawasan Andir di peta Bandung tahun 1904. Koleksi Leiden University Libraries.

Di sekitar lokasi yang kini ditempati pasar, kawasan Andir berada di tepi Jalan Raya Pos bagian utara. Dalam peta bertarikh 1904, wilayah Andir terbentang dari kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Garuda hingga ke daerah Kaca-Kaca Kulon. Perkembangan kawasan barat Bandung pada masa itu mendorong pemerintah kota untuk menyediakan berbagai fasilitas pendukung bagi masyarakat. Perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) pun membangun Halte Andir pada tahun 1899[1]. Saat itu, Andir merupakan sebuah onderdistrict (subdistrik) di bawah Distrik Ujungberung Kulon[2].

Pada tahun 1911, pemerintah menyiapkan lahan seluas 2.500 hektare di tepi Jalan Waringin untuk mengakomodasi sekitar 1.100 pedagang[3]. Sebagai bagian dari rencana pengembangan, Pasar Andir pun dibangun dan diresmikan pada tahun 1915[4].

Keberadaan Pasar Andir turut mendorong perputaran roda ekonomi di wilayah barat Bandung, yang pada masa itu dihuni oleh komunitas pribumi dan Tionghoa. Kondisi ini menjadikan kawasan Andir, bersama daerah sekitarnya seperti Ciroyom, berkembang sebagai pusat ekonomi baru Kota Bandung pada masa kolonial.

Baca JugaPERKEMBANGAN KAWASAN CIROYOM BANDUNG

Namun setelah mengalami masa kejayaan di era Hindia Belanda, Pasar Andir menyimpan kisah kelam pada masa pendudukan Jepang. Tempat yang dahulu menjadi sumber penghidupan masyarakat ini sempat dialihfungsikan menjadi kamp interniran bagi para tawanan perang.

Sejak Agustus 1942, Pasar Andir menjadi salah satu dari sekitar 17 lokasi di Kota Bandung yang digunakan oleh militer Jepang sebagai tempat penahanan tawanan perang dan keluarganya. Di Bandung, Jepang menggunakan bekas hotel, sekolah, fasilitas militer, dan rumah-rumah pribadi sebagai tempat tawanan.

Dalam bukunya Bandung: Citra Sebuah Kota, R.P.G.A. Voskuil menyebutkan bahwa sekitar 550 lelaki dewasa pernah dikurung dan dikonsentrasi di dalam kompleks Pasar Andir[5]. Karena fasilitas pasar belum memungkinkan untuk dibuat kamp. sekitar 500 orang dipindahkan ke Kamp Stella Maris secara sementara dari bulan September sampai Oktober 1942[6].

Kondisi di Kamp Stella Maris Bandung, 1942-1944. Koleksi https://geheugen.delpher.nl/

Situs Japanse Burgerkampen di japanseburgerkampen.nl mencatat bahwa Kamp Stella Maris juga dikenal dengan nama Kamp Waringin atau Kamp (Biara) Maria Bintang Laut[7]. Nama terakhir kini digunakan sebagai nama sekolah di kompleks pendidikan dan sarana keagamaan yang terletak di sudut timur Jalan Kebon Jati dan Jalan Waringin.

Selain menampung tawanan perang dari kamp Pasar Andir, Kamp Stella Maris juga menjadi lokasi penahanan bagi sekitar 1.000 tawanan perang yang berasal dari Garut, Tasikmalaya, dan Jawa Tengah, sejak Oktober 1942 hingga Mei 1943. Tawanan yang ditempatkan di sini terdiri dari para pria dan anak laki-laki[8]. Kamp yang dikelilingi kawat berduri dan gedek bambu ini akhirnya ditutup pada Januari 1944. Setelah itu, para tawanan dipindahkan ke Kamp Batalion 15 di Bandung dan Baros 5 di Cimahi[9].

Bulan November 1942, kamp Pasar Andir secara resmi ditutup setelah seluruh tawanan dipindahkan ke kamp baru yang terletak di bekas Palace Hotel di Jalan Kebon Jati, tidak jauh dari Stasiun Bandung saat ini[10].

Meski menyimpan cerita kelabu dari masa lalu, Pasar Andir dan Jalan Waringin tetap menjadi tulang punggung kegiatan ekonomi di Bandung barat. Sayangnya, tak ada petunjuk yang tersisa dari masa kelam tersebut. Tak ada penanda resmi yang menjelaskan bahwa tempat ini pernah menjadi kamp interniran. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk pasar tradisional, tersimpan jejak sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Gambar: Google Maps

Sumber:

[1] Staatsspoorwegen op Java: Westerlijnen. Preangerbode. Iklan. Edisi 13 Februari 1899.

[2] Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1899, Deel: 1, 1899. Hal. 199.

[3] Gemeenteleening F 1.100.000. De Preanger-bode. Edisi 21-11-1911

[4] Pasarbouw. De Preanger-bode. Edisi 18 April 1915.

[5] Voskuil, R. P. G. A. 2007. Citra Sebuah Kota. Bandung: Departemen Planologi ITB bekerja sama dengan PT. Jagaddhita.

[6] Pasar Andir in Bandung. https://www.indischekamparchieven.nl/

[7] Stella Maris. https://www.japanseburgerkampen.nl/Stella%20Maris.htm

[8] Stella Maris in Bandoeng. https://www.indischekamparchieven.nl/

[9] Stella Maris. https://www.japanseburgerkampen.nl/Stella%20Maris.htm

[10] Pasar Andir https://www.japanseburgerkampen.nl/Pasar%20Andir.htm


Leave a Reply

Your email address will not be published.