Pada tahun 1902, murid-murid sebuah sekolah di Bandung membuat klub sepakbola untuk kalangan sendiri, bernama SIDOLIG. Klub sepakbola ini berkembang, mulai diurus secara serius, mengikuti kompetisi dalam kota. Klub ini kemudian melahirkan legenda-legenda sepakbola Kota Bandung dari masa kolonial sampai pasca kemerdekaan.
Aktivitas murid-muris sekolah ini tidak lepas dari masuknya sepakbola ke Bandung di akhir abad 19. Bermain sepakbola menjadi kegiatan yang digemari masyarakat Bandung saat itu. Selain menyehatkan, masuknya sepakbola menambah item hiburan bagi masyarakat terutama orang Eropa. Jauh dari negeri asal, mereka menjadikan sepakbola sebagai ajang hiburan dan bersosialisasi.
Masuknya cabang olahraga baru nan modern ini didorong oleh perkembangan kota. Sebelumnya, Bandung merupakan kota kecil nan mungil di tengah pegunungan. Modernisasi mengubah wajah kota menjadi kota yang maju dan terbuka, baik dari segi fisik maupun kehidupan masyarakat. Modernisasi kota membuat Bandung menjadi kota yang menerima berbagai macam bentuk budaya dan manusia dari berbagai latar belakang.

Seperti halnya yang terjadi di beberapa kota besar Hindia belanda, dan juga di Belanda. Orang-orang Eropa membentuk klub-klub sepakbola. Menurut W. Berretty, klub sepakbola pertama di kota Bandung bernama Bandoengsche Voetbal Club (BVC) yang lahir tahun 1900. Klub ini didominasi oleh mantan pemain sepakbola Belanda yang ditugaskan sebagai pegawai di Kota Bandung. Selain itu, beberapa pemuda yang kemudian menjadi pejabat penting di Hindia Belanda pun bergabung menjadi anggota BVC, di antaranya P.A. Roelofsen yang kemudian menjadi direktur Gouvernement Bedrijven kelak, dan juga bakal kepala inspektur perusahaan kereta api negara, W.F. Staargaard. Mereka menjadikan Alun-alun Bandung sebagai lapangan tempat mereka bermain[1]. Alun-alun Bandung menjadi lapangan sepakbola “besar” pertama sebelum lahir lapangan-lapangan lainnya.
Baca Juga: Alun-Alun, Rahim Sepakbola Kota Bandung
Selang 2 tahun kemudian, murid-murid Europeesche Lagere School membentuk klub sepakbola sendiri dengan nama Spelen In De opening Lucht Is Gezond atau disingkat SIDOLIG. Lagi menurut Berretty, mereka meresmikan klub sekaligus mengangkat kepengurusan pada tanggal 22 Februari 1903. Saat itu SIDOLIG mempunyai pengurus seperti Oscar Veer sebagai ketua, kemudian Henry Berretty sebagai sekretaris merangkap bendahara, dan Eddy Alting Siberg sebagai komisaris sekaligus kapten tim[2].
Di kompetisi internal kota, SIDOLIG merupakan salah satu tim yang sering menjadi juara. Dalam catatan rsssf.com, SIDOLIG bersama klub SS, UNI, Sparta, dan Velocitas menjadi juara se Kota Bandung di medio tahun 1905-1942[3].

Seperti pendahulunya BVC, SIDOLIG pada awalnya menjadikan Alun-alun sebagai lapangan mereka. Sejak tahun 1905, mereka mulai berpindah-pindah tempat, seperti ke Lapangan Gereja dan Lapangan Jalan Jawa. Di tahun 20 Oktober 1923[4], akhirnya mereka mendapat lapangan tetap, yakni di ujung Jalan Riau Bandung, tempat yang menjadi Lapangan dan mes Persib Bandung sekarang.
Referensi:
[1] W. Berretty. 1934. 40 Jaar voetbal in Ned-Indie. Soekabumi: Berretty. Halaman 98.
[2] W. Berretty. 1934. 40 Jaar voetbal in Ned-Indie. Soekabumi: Berretty. Halaman 113.
[3] Dutch East Indies – Football History. https://www.rsssf.org/tablesi/indiechamp.html#stadban
[4] Groote Voetbalwedstrijden. De Preanger-bode. 19 Oktober 1923


Leave a Reply