CIATER STELLING BAGIAN 1: KEJATUHAN CIATER

CIATER STELLING BAGIAN 1: KEJATUHAN CIATER

Pertempuran Ciater (Ciater Stelling) merupakan salah satu pertempuran penting dalam upaya Jepang untuk menguasai Kota Bandung dan Hindia Belanda pada tahun 1942. Setelah sebelumnya berhasil menguasai posisi strategis di Kalijati dan Subang, pasukan Jepang yang dipimpin oleh Kolonel Shoji menargetkan Bandung sebagai langkah selanjutnya dalam ekspansi militernya.

Baca JugaSaat Pasukan Jepang Memasuki Bandung, 1942

Tekad Shoji untuk merangsek ke Bandung didasari atas keberhasilan-keberhasilannya menahan serangan dari pasukan Belanda. Shoji menyadari bahwa militer Hindia Belanda tengah melakukan pemusatan kekuatan, sehingga ia berupaya untuk merebut Bandung secepat mungkin. Pria kelahiran Sendai ini khawatir, pasukan Belanda yang bertambah kuat akan menggagalkan rencananya merebut Bandung. Tekad Shoji untuk segera menguasai Bandung juga didukung oleh Mayor Jenderal Endo, pemimpin Divisi Udara ke-3 Jepang, dan mendapat persetujuan dari tentara ke-16 (Sixteenth Army).

Pertempuran Ciater (Ciater Stelling) hari pertama. (Sumber: Willem Remmelink)

Pada tanggal 5 Maret 1942, Shoji mengutus battalion yang dipimpin Mayor Mitsunori Wakamatsu ke arah Bandung melalui Ciater. Batalion ini terdiri dari tiga kompi infanteri sebagai kekuatan Utama dan didukung oleh artileri gunung, bergerak meninggalkan Kota Subang, jam 11.00. Pasukan ini mendapat tugas melakukan pengintaian terhadap situasi di sepanjang jalan Subang – Bandung, khususnya posisi musuh dan kondisi di sisi utara Bandung.

Pada saat yang bersamaan, Divisi Udara Endo mengerahkan pesawat-pesawat tempur untuk melakukan pembersihan di sepanjang jalur antara Jalan Cagak dan Ciater sejak pukul 11.30. Serangan udara ini menghancurkan sekitar satu kompi unit mekanis Tentara Hindia Belanda yang yang berada di jalur tersebut. Di tengah perjalanan, pasukan Wakamatsu sempat berhasil mengejar pasukan Belanda yang mundur akibat serangan udara tadi.

Setelah melanjutkan perjalanan, pasukan Wakamatsu mendapat serangan saat mendekati Ciater. Tank yang berada di posisi paling depan, mendapat serangan dari tantara Belanda, sekitar jam 15.30. Saat itu, jalan di Ciater dipenuhi dengan rintangan antitank berupa rel kereta api yang tertancap di tanah dan kawat berduri. Pasukan Belanda juga melancarkan serangan dari pillbox (benteng pengintai) yang mereka bangun di dekat jalan.

Sebuah pillbox (benteng pengintai) Belanda di jalur Subang-Ciater. (Sumber: Willem Remmelink)

Medan pertempuran yang dipenuhi pepohonan cukup menguntungkan bagi Jepang. Kondisi ini membatasi pandangan dari pillbox, sehingga dimanfaatkan oleh Jepang yang mencoba untuk menyebar dan menyerang posisi pasukan dan pillbox Belanda. Dalam pertempuran yang berlangsung sengit, pasukan Jepang berhasil merebut satu pillbox pertama di Ciater. Serangan dilanjutkan secara bertahap hingga akhirnya lima pillbox Belanda berhasil direbut oleh pasukan Wakamatsu pada hari yang sama.

Saat itu, pasukan Jepang bertempur dengan sekitar seribu tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang kondisinya tidak ideal setelah mendapat serangan Udara dari divisi udara pimpinan Endo. Hari itu, divisi Endo mengirim sekitar 48 pesawat tempur dari grup Udara ke-27, ke-75, dan ke-90.

Setelah menguasai Ciater, Wakamatsu sebagai pemimpin memutuskan untuk melanjutkan serangan lagi di tanggal 6, keesokan harinya. Sepanjang malam itu, Batalion Wakamatsu berjaga dengan penuh kewaspadaan.

Bersambung

Disadur dari buku The Invasion of the Dutch East Indies, Dikompilasi oleh The War History Office of the National Defense College of Japan, diterjemahkan dan diedit oleh Willem Remmelink.


Leave a Reply

Your email address will not be published.