“Lokomotif bersiul, kami melaju kencang, naik jembatan kayu di atas jurang besar Poetra Pinggang. Dari satu bentangan pegunungan Preanger Selatan, jembatan itu menuju ke yang lain. Kadang-kadang jembatan berada 40 meter di atas dasar jurang, kemudian kami mendekati terowongan pertama, yang terpanjang di Jawa — 1.145 meter — segera dua terowongan yang lebih kecil menyusul.” — Reitsma, 1923[1].
Di antara tebing kapur dan deburan ombak Samudera Hindia, sebuah terowongan sunyi menyimpan jejak megah masa lalu. Wilhelmina, terowongan terpanjang yang pernah dibangun di Hindia Belanda, berdiri kokoh di perut Gunung Kendeng—menjadi saksi kejayaan infrastruktur dan ketangguhan manusia menaklukkan alam.
Mahakarya di Bawah Gunung Kendeng
Terowongan Wilhelmina merupakan salah satu mahakarya infrastruktur yang dibangun pada masa Hindia Belanda. Terletak di bawah kawasan Desa Pamotan dan Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, terowongan ini menjadi bagian penting dari jalur kereta api Banjar–Pangandaran yang kini telah nonaktif.
Selain dikenal dengan nama resminya, Terowongan Wilhelmina juga kerap disebut Terowongan Sumber, merujuk pada mata air alami yang berada di sekitarnya[2]. Keberadaannya menyimpan jejak sejarah dan rekam jejak teknis yang mengagumkan, sekaligus menjadi simbol kejayaan masa lalu di tengah bentang alam Priangan Selatan.
Baca Juga: BANJAR – PANGANDARAN: Jalur Kereta Api yang Menawan
Dari Dataran ke Lautan
Jalur kereta api Banjar–Pangandaran dikenal sebagai salah satu rute paling menawan yang pernah dibangun di Hindia Belanda. Meski banyak jalur kereta di Priangan melintasi pegunungan dan sungai, lintasan antara Banjar dan Cijulang ini memiliki daya tarik yang tak tertandingi. Surat kabar Preangerbode bahkan menyebutnya sebagai jalur paling indah di Priangan[3]. Iklan di Preangerbode edisi 30 Mei 1923, menggambarkan perjalanan ini sebagai yang paling menakjubkan di Jawa, dengan lanskap alam, jembatan, dan terowongan sebagai daya tarik utamanya[4].
Perjalanan dimulai dari Stasiun Banjar menuju Kalipucang, melalui lintasan yang relatif datar. Namun keindahan sesungguhnya muncul ketika kereta mulai memasuki kawasan pegunungan dan bergerak ke arah selatan menuju pesisir. Penumpang disuguhi pemandangan menawan Samudera Hindia, lengkap dengan deburan ombak yang menghantam tebing kapur. Suara alam ini bahkan bisa terdengar jelas dari dalam kereta[5], menambah nuansa dramatis sepanjang perjalanan.
Terowongan dan Jembatan Spektakuler
Keunikan jalur ini tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tapi juga pada keberadaan empat terowongan dan sejumlah jembatan tinggi. Terowongan-terowongan itu diberi nama tokoh-tokoh kerajaan Belanda: Wilhelmina, Philip, Hendrik, dan Juliana.
Terowongan pertama yang dibangun adalah Terowongan Philip—sekarang dikenal sebagai Terowongan Batulawang, Pagak, atau Sentiong. Meski bukit Batulawang tergolong rendah, Staatsspoorwegen (SS) memilih untuk melubanginya sepanjang 160 meter guna menghindari tanjakan curam yang akan timbul jika jalur dibangun di sisi bukit[6]. Lokasinya berada sekitar 2 kilometer dari Kota Banjar.
Terowongan berikutnya adalah Terowongan Hendrik, sepanjang 105 meter. Dari arah Kalipucang, kereta langsung melintasi Jembatan Cipamotan—atau Cikacepit—setelah keluar dari terowongan ini. Tak jauh dari sana, Terowongan Juliana menanti. Terowongan ini dikenal sebagai terowongan bengkok karena adanya lengkungan di dalamnya. Panjangnya mencapai 147 meter dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari terowongan terbesar: Wilhelmina.
Terowongan Terpanjang di Jawa
Pengerjaan terowongan dan jembatan di kawasan ini didorong oleh upaya SS untuk membuat jalur yang lebih singkat dan landai[7]. Kondisi geografis yang menantang membuat pembangunan terowongan menjadi pilihan wajib meskipun memerlukan biaya besar[8].
Dengan panjang sekitar 1.145 meter, Terowongan Wilhelmina adalah yang terpanjang di Hindia Belanda pada masanya. Terletak di antara Kalipucang dan Ciputrapinggan, terowongan ini menembus Gunung Kendeng.
View this post on Instagram
Dua Versi Pengerjaan Terowongan Wilhelmina
Terdapat dua versi mengenai metode pengerjaan Terowongan Wilhelmina yang menyimpan cerita teknis menarik dari masa lalu. Sejarawan Agus Mulyana mencatat bahwa pembangunan terowongan ini dilakukan secara manual, melalui proses pengeboran dengan tangan. Para pekerja harus menggali tanah dan menghancurkan batu andesit yang keras di dalam perut gunung[9].
Namun, catatan lain datang dari surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. Dalam laporannya tertanggal Maret 1913, disebutkan bahwa Staatsspoorwegen (SS) menyiapkan sekitar 2.500 kilogram dinamit di Stasiun Kalipucang sebagai bagian dari persiapan untuk menembus perbukitan Gunung Kendeng[10]. Penggunaan dinamit ini menunjukkan bahwa teknologi ledakan juga digunakan dalam tahap-tahap tertentu pembangunan terowongan, terutama untuk mempercepat proses penggalian di medan yang sulit.
Pengerjaan terowongan ini memakan waktu hampir dua setengah tahun[11] dan menjadi salah satu pencapaian teknik paling monumental dari Staatsspoorwegen di awal abad ke-20.
Terowongan Wilhelmina, Warisan Megah yang Terlupakan
Kini, terowongan-terowongan ini menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu. Jalur Banjar–Pangandaran mungkin tak lagi dilalui kereta api seperti dulu, tetapi keindahan dan kemegahan yang pernah ada di sepanjang rel tersebut tetap abadi dalam catatan sejarah dan memori kolektif. Terowongan Wilhelmina dan rekannya bukan hanya bagian dari infrastruktur transportasi, tetapi juga simbol dari semangat pembangunan dan hubungan manusia dengan alam yang menantang namun memesona.
Gambar: Terowongan Wilhelmina di jalur Banjar-Pangandaran. Foto koleksi Indonesian Railways Preservation Society wilayah Bandung, di artikel Bakti Prasarana IRPS Bandung “Membersihkan Wajah Wilhelmina”
Referensi:
[1] Reitsma. 1923. NAAR DE ZUIDKUST. Majalah Indië; geïllustreerd weekblad voor Nederland en koloniën. Edisi 29-08-1923
[2] Pangandaran: Het Scheveningen van Java II. De Preanger-bode. 22-12-1922
[3] De Tramlijn Bandjar-Parigi. De Preangerbode. Edisi 11-02-1919
[4] De Preangerbode. Edisi 30-05-1923
[5] Pangandaran: Het Scheveningen van Java II. De Preangerbode. Edisi 22-12-1922
[6] De Staatspoorwegen in 1910. De Preangerbode. 16-08-1911
[7] Pangandaran: Het Scheveningen van Java II. De Preangerbode. Edisi 22-12-1922
[8] De Staatspoorwegen in 1910. De Preangerbode. Edisi 16-08-1911
[9] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Hal. 154
[10] Tunnels lijn Bandjar-Parigi. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Edisi 31-03-1913
[11] Een Excursie. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 03-04-1918


Leave a Reply