Akhir bulan Mei 1927 menjadi babak baru dalam sejarah perkembangan Radio Malabar. Pada waktu tersebut, para ahli radio di Gunung Malabar berhasil mengirimkan suara untuk pertama kalinya ke Belanda, tepatnya ke sebuah stasiun di kawasan Meyendel[1]. Momen ini menjadi tonggak penting dalam terhubungnya Hindia Belanda dan Belanda melalui teknologi audio.
Keberhasilan pembangunan jaringan komunikasi radio antarbenua yang dirintis oleh Cornelius Johannes de Groot benar-benar mendekatkan Hindia Belanda dengan negeri induknya. Masyarakat di kedua kawasan mulai merasakan manfaat dari komunikasi telegraf dan telepon melalui stasiun radio di Gunung Malabar dan Rancaekek. Selain untuk telepon, jaringan ini juga digunakan untuk mengirimkan suara secara langsung.
Baca Juga: Stasiun Rancaekek dan Percakapan Pertama Dengan Belanda
Salah satu pemanfaatan paling menarik dari teknologi ini terjadi pada akhir tahun 1936, ketika digelar sebuah pementasan tari di Istana Noordeinde, Den Haag. Tarian Serimpi yang ditampilkan di hadapan Ratu Wilhelmina, Putri Juliana, Pangeran Bernhard, dan sejumlah pejabat tinggi Belanda itu diiringi oleh alunan gamelan yang dikirim secara langsung dari Pura Mangkunegaran di Solo, melalui Stasiun Malabar di Bandung.
Pada pementasan tersebut, tampil sebagai penari utama adalah Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumowardhani, atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul — putri dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer.
Menurut pejabat kolonial M. J. J. Treur, pementasan ini merupakan sebuah eksperimen yang unik — perpaduan antara seni Timur yang halus dengan teknologi Barat yang canggih. Ia melihat bagaimana kecanggihan teknik penyiaran suara bisa menyatu dengan keindahan dan kelembutan budaya Jawa[2].
Pertunjukan ini berhasil memikat perhatian Ratu Wilhelmina. Dalam komentarnya, ia menyatakan bahwa jarang sekali ia menyaksikan sesuatu yang begitu indah. Ratu bahkan meminta agar pementasan tersebut dapat diulang pada kesempatan berikutnya, yakni dalam rangka perayaan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard[3].

Untuk menyelenggarakan pertunjukan ini, gamelan Kyai Kanjeng Kanjut Mesem mulai dimainkan dari Mangkunegaran pada pukul 22.37 waktu setempat. Kelompok ini terdiri dari 40 penabuh gamelan, 20 pengisi suara pria dan perempuan, serta seorang penari tambahan, yakni Partinah, saudari dari Gusti Nurul. Mereka telah berlatih berbulan-bulan demi menyukseskan acara ini[4].
Secara teknis, persiapan dan penyelenggaraan disupervisi oleh kru dari Persatuan Radio Solo. Sementara itu, PTT (Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon) mengirimkan seorang pegawai untuk memastikan kelancaran teknis penyiaran. Dari Solo, suara gamelan dikirim ke pemancar di Gunung Malabar, kemudian diteruskan ke Belanda melalui Stasiun Radio Kootwijk, dan akhirnya sampai di Istana Noordeinde, Den Haag[5].
Dalam sambutannya sebagai pejabat Gubernur Surakarta, Treur menjelaskan bahwa ide pementasan Tari Serimpi ini berasal langsung dari Mangkunegoro VII. Ia ingin memperkenalkan budaya Jawa dalam rangka menyambut pernikahan agung antara Juliana dan Bernhard[6].
Baca Juga: Stasiun Radio Cangkring, Telinga Pertama di Bumi Selatan
Permintaan Ratu Wilhelmina akhirnya terpenuhi. Pada tanggal 7 Januari 1938, Gusti Nurul kembali mementaskan Tari Serimpi di Istana Noordeinde dalam sebuah pesta dansa yang menjadi bagian dari perayaan pernikahan kerajaan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini gamelan yang mengiringi tarian tersebut telah direkam terlebih dahulu. Meski tidak disiarkan secara langsung, pertunjukan ini tetap memberikan kesan mendalam bagi para tamu istana yang hadir[7].
Atas penampilannya yang mengesankan, Gusti Nurul menerima sebuah hadiah kenang-kenangan berupa potret dalam bingkai perak, lengkap dengan tanda tangan dari Juliana dan Bernhard[8].
Pementasan Tari Serimpi yang diiringi gamelan dari Solo melalui gelombang radio Malabar bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Kisah ini mrnjadi gambaran bagaimana Radio Malabar mengubah wajah komunikasi di Belanda dan Hindia Belanda.
Gambar: Gusti Nurul ketika menari di Istana Noordeinde Den Haag, dalam pesta pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard, tahun 1937. Koleksi KITLV.
Referensi:
[1] RADIO TELEFONISCHE VERBINDING MALABAR-MEYENDAL. De Maasbode. Edisi 28 Mei 1927.
[2] De Serimpidans ten Paleize. De locomotief. Edisi 29 Desember 1936.
[3] De Serimpidans ten Paleize. De locomotief. Edisi 29 Desember 1936.
[4] De Serimpidans ten Paleize. De locomotief. Edisi 29 Desember 1936.
[5] De Serimpidans ten Paleize. De locomotief. Edisi 29 Desember 1936.
[6] De Serimpidans ten Paleize. De locomotief. Edisi 29 Desember 1936.
[7] Reprise van den Serimpidans. De locomotief. Edisi 12 Januari 1937
[8] Een Geschenk voor Raden Siti. De locomotief. Edisi 09 januari 1937


Leave a Reply