Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Bandung, ada satu jembatan kereta api yang selalu mencuri perhatian: Jembatan Viaduct. Jembatan beton ini bukan sekadar penghubung rel, tetapi juga simbol bagaimana kota pernah berbenah besar-besaran saat dipersiapkan menjadi calon ibu kota Hindia Belanda.
Sejak awal abad ke-20, Bandung memang dipoles habis-habisan. Gedung-gedung megah berdiri, jalan-jalan dibuka, dan jaringan kereta api diperbarui. Di antara rencana itu, terselip gagasan membangun viaduct yang melintasi Sungai Ci Kapundung sekaligus boulevard penghubung Jalan Suniaraja, Perintis Kemerdekaan, dan Kebon Jukut. Rencananya sudah ada sejak 1919[1], bersamaan dengan proyek jalur ganda Padalarang–Cicalengka. Namun, seperti banyak rencana besar lainnya, viaduct Suniaraja urung terwujud.
Baca Juga: Kecelakaan Kereta Api di Jalan Braga
Dua puluh tahun berlalu, arus lalu lintas kota semakin padat. Kereta api yang membelah jantung Bandung membuat kendaraan sering terjebak di perlintasan sebidang. Majalah Spoor- en tramwegen bahkan menulis bahwa perlintasan di Jalan Landraad (kini Suniaraja) adalah salah satu yang paling sibuk[2]. Pada 1939, Pemerintah Kota akhirnya mengajukan proposal: sudah waktunya Bandung punya viaduct[3].

Sebelum itu, di atas Ci Kapundung sudah berdiri dua jembatan besi. Satu di antaranya dibangun tahun 1924 saat jalur ganda Padalarang–Kiaracondong rampung. Tetapi, jembatan besi dianggap tidak lagi memadai. Solusinya: sebuah viaduct beton yang lebih kuat, lebih modern, dan bisa memperlancar arus kendaraan di bawahnya.
Menurut Haryoto Kunto[4], pembangunan Viaduct di akhir tahun 1930-an berkaitan dengan rencana pemerintah kota untuk membangun boulevard antara Suniaraja dan Jalan Raya Pos. Rencana pembangunan boulevard yang menyusuri sungai Ci Kapundung ini pun ternyata tidak terwujud. Hanya boulevard bagian di Suniaraja saja yang dapat dibangun.
Baca Juga: Stasiun Bandung, Stasiun dengan Pencahayaan Terbaik
Proyek ambisius ini dikerjakan oleh perusahaan Bouwbureau en Aannemer Lim A Goh, kontraktor ternama di Bandung. Namanya tercatat di banyak bangunan bersejarah: HBS (sekarang SMA 3 dan SMA 5), Sociëteit en Schouwburg Concordia (Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika), Penjara Sukamiskin, hingga Gedung Sate[5]. Bisa dibilang, tangan perusahaan ini ikut membentuk wajah Bandung modern.
Pembangunan viaduct tentu bukan pekerjaan ringan. Rel kereta tidak boleh mati total, sehingga jadwal perjalanan diatur ulang[6]. Kereta harus bergantian melewati jalur tunggal yang disisakan, membuat kedatangan dan keberangkatan—baik kereta penumpang maupun barang—ikut berubah[7]. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: menghadirkan viaduct beton pertama di pusat kota.

Kapan persisnya viaduct selesai, belum ada catatan resmi. Tapi foto-foto tua menunjukkan jembatan sudah berdiri megah sebelum Jepang masuk ke Hindia Belanda. Hingga kini, lebih dari delapan dekade kemudian, Viaduct masih tegak kokoh. Setiap hari ia dilewati kereta yang meluncur ke arah timur Stasiun Bandung, sembari menyaksikan lautan kendaraan di bawahnya.
Bagi warga Bandung, Viaduct bukan hanya infrastruktur. Ia adalah landmark, saksi sejarah, dan bagian dari denyut nadi kota. Di tengah gedung-gedung modern yang terus bertambah, viaduct tetap hadir sebagai pengingat bahwa Bandung pernah dipersiapkan untuk menjadi pusat negeri, dan sampai sekarang, ia masih menjalankan tugasnya dengan setia.
Referensi:
[1] Karsten, E.H. 1919. Nota betreffende de plannen tot ombouw van den spoorweg ter hoofdplaats Bandoeng. Bandung: Vorkink. Hal. 19.
[2] Kroniek der Indische Spoorwegen, 16—30 September 1930. Spoor- en tramwegen. Edisi 28 Oktober 1939. Hal. 606
[3] Bouw van Groot Viaduct. Bataviaasch nieuwsblad. Edisi 03 Juli 1939.
[4] Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung: PT. Granesia.
[5] Katam, Sudarsono. 2009. Gedung Sate Bandung. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama. Hal. 53-54.
[6] Kroniek der Indische Spoorwegen, 16—30 September 1939. Spoor- en tramwegen. Edisi 28 Oktober 1939. Hal. 606
[7] NIEUWE S.S.-DIENSTREGELING. De locomotief. Edisi 29 September 1939.


Leave a Reply