LEDAKAN GAS KALIJATI, API SETINGGI MONAS (Bagian 1)

LEDAKAN GAS KALIJATI, API SETINGGI MONAS (Bagian 1)

Awal September 1984, langit malam di utara Kota Bandung tiba-tiba pecah oleh semburat merah-oranye yang menyala. Fenomena ini segera menarik perhatian masyarakat. Tidak terdengar suara ledakan, hanya cahaya terang dari balik Gunung Tangkuban Parahu yang tampak masih terlelap dalam tidurnya.

Keesokan harinya, rasa penasaran warga Bandung terjawab melalui pemberitaan surat kabar. Disebutkan, sebuah sumur eksploitasi gas di Pasirjadi, sekitar 21 kilometer barat Kota Subang, meledak. Secara geografis, Pasirjadi berada di Desa Wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang. Sebelum pemekaran wilayah tahun 1993, Desa Wantilan masih termasuk Kecamatan Kalijati.

Baca JugaKisah Penerbangan di Hindia Belanda, dari Kalijati ke Bandung

Sumur yang meledak itu merupakan sumur pertama di lokasi tersebut dan diberi nama Pasirjadi A. Pengeboran dimulai pada 19 Agustus 1984, hanya 13 hari sebelum ledakan. Rencananya, sumur ini akan dieksplorasi hingga kedalaman 2.200 meter. Menurut tuturan Bapak Martono, Pimpinan Unit Eksplorasi dan Produksi III Pertamina kala itu kepada KOMPAS, kawasan Pasirjadi berada di atas lapisan Parigi yang menyimpan cadangan gas cukup besar—sudah dieksploitasi sejak masa Belanda.

Api di ledakan gas di Pasirjadi Subang tahun 1984. Sumber: KOMPAS

Pagi hari, 1 September 1984, sebanyak sepuluh pekerja beraktivitas di sumur Pasirjadi A. Dua di antaranya berada di dekat mulut sumur, sementara lainnya menangani peralatan di sekitarnya. Semua berjalan normal sampai tiba-tiba terjadi semburan liar dari kedalaman 540 meter. Api pun keluar dari mulut sumur dan menjulang tinggi ke udara. Harian Kompas menulis, kobaran api itu sempat mencapai ketinggian 130 meter—bahkan lebih tinggi dari Monumen Nasional (Monas)—dengan radius semburan sekitar 36 meter.

Ledakan itu berlangsung begitu cepat hingga para pekerja tak sempat menggunakan alat pemadam maupun menyelamatkan peralatan di sekitar sumur. Sumber api diduga berasal dari jarak dekat antara semburan gas dengan percikan akibat gesekan logam. Beruntung, seluruh sepuluh pekerja berhasil menyelamatkan diri, sehingga tidak ada korban jiwa.

Setelah kejadian, Pertamina segera mengevakuasi penduduk di sekitar lokasi. Sebanyak 601 orang yang tinggal dalam radius 500 meter diungsikan ke tempat aman untuk menghindari gelombang panas dan kebisingan. Pertamina memperkirakan masa pengungsian akan berlangsung tiga hingga empat bulan. Para pengungsi mendapat santunan sebesar Rp750 per orang per hari. Sementara itu, rumah-rumah yang dikosongkan disewa dan difungsikan sebagai pos komando tim pengendali kebakaran.

Baca Juga: Saat Pasukan Jepang Memasuki Bandung, 1942

Berbekal pengalaman memadamkan kebakaran serupa, Pertamina bertekad menangani sendiri api di Pasirjadi A. Mereka pernah menanggulangi kebakaran di Pangkalan Susu, Sumatera Utara; sumur tua peninggalan Shell di Sumatera Selatan yang terbakar 15 tahun; serta semburan liar di Kalimantan Timur. Sebelumnya, kebakaran di ladang gas Arun, Aceh, sempat ditangani oleh tim pemadam asal Amerika Serikat, Red Adair.

Bagaimana api yang cahayanya sampai terlihat dari Bandung itu bisa dipadamkan, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Jawabannya akan dibahas dalam tulisan selanjutnya. (Bersambung)

Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari peristiwa terbakarnya ladang gas di Pasirjadi, Kalijati, Kabupaten Subang. Tulisan bagian kedua pertama dapat diakses melalui link: MENAKLUKKAN API RAKSASA DI KALIJATI (Bagian 2)

Keterangan: Gambar feature bukan gambar sebenarnya, merupakan ilustrasi yang dihasilkan AI.

Sumber:

Anjungan Minyak Meledak di Pasirjadi, Subang. KOMPAS. Edisi 9 September 1984.

Semburan Api melebihi Tinggi Monas. KOMPAS. Edisi 9 September 1984.

Kebakaran Sumur Pasirjadi Dipadamkan dalam Dua Minggu. KOMPAS. Edisi 14 November 1984.

Kebakaran Sumur Gas Pasirjadi Dipadamkan, Tinggal Semburan Liar. KOMPAS. Edisi 26 November 1984.

Sejarah Desa Wantilan. Link: https://wantilandesa.id/about


Leave a Reply

Your email address will not be published.