MENAKLUKKAN API RAKSASA DI KALIJATI (Bagian 2)

MENAKLUKKAN API RAKSASA DI KALIJATI (Bagian 2)

Sebuah sumur gas di Pasirjadi, desa Wantilan, meledak pada awal September 1984. Dari desa yang dulu masuk ke dalam administrasi kecamatan kalijati ini, api berkobar besar. Cahayanya bahkan sampai terlihat ke Kota Bandung.

Beberapa bulan lamanya, api raksasa masih menjulang dari perut bumi Pasirjadi. Siang dan malam, kobaran itu tak kunjung padam, menebar gelombang panas di kawasan sekitarnya. Cahaya terang yang menggantung di langit malam menjadi pemandangan tak biasa bagi warga Subang. Meski jarak evakuasi sudah ditetapkan, dentuman kecil, suara mendesis, dan cahaya oranye terus berkobar.

Pertamina sadar, menghadapi amukan api dari sumur gas bukan perkara mudah. Ledakan ini bukan sekadar kebakaran biasa, melainkan pertarungan melawan tekanan gas yang menyembur dari kedalaman ratusan meter. Namun dengan bekal pengalaman dari berbagai insiden sebelumnya, para teknisi dan tim pemadam bertekad menaklukkan api Pasirjadi A. Pertanyaannya tinggal satu: strategi apa yang akan mereka gunakan untuk meredam kobaran yang sempat setinggi Monas itu?

Baca Juga: Kisah Penerbangan di Hindia Belanda, dari Kalijati ke Bandung

Metode yang digunakan Pertamina adalah melakukan pemboran sumur miring. Teknik ini dimaksudkan untuk menginjeksikan air bercampur lumpur guna mencegat aliran gas dan api di dalam sumur. Saat itu, dua sumur miring disiapkan pada jarak sekitar 300 meter dari titik kebakaran. Untuk membangunnya, Pertamina mendatangkan dua unit menara bor dari Jatibarang dan Kamojang. Adapun pasokan air diambil dari Sungai Cijengkol dan Cibarajang yang letaknya tidak jauh dari lokasi.

Pada pertengahan November 1984, Pertamina menargetkan api dapat dipadamkan dalam waktu dua minggu. Menurut harian Kompas, jarak pengeboran di sumur miring tinggal 150 meter dari titik sasaran. Karena sudah mencapai tahap berbahaya, akses menuju Pasirjadi A ditutup rapat, termasuk bagi warga maupun pihak luar. Hal ini sangat penting mengingat semakin banyaknya masyarakat yang ingin menyaksikan api dari dekat.

Fenomena ini muncul di tengah kesibukan tim pemadam. Kobaran api yang begitu besar justru menarik perhatian banyak orang. Warga dari berbagai daerah berdatangan untuk menyaksikan langsung peristiwa langka itu. Kawasan Pasirjadi pun berubah menjadi semacam “wisata dadakan”. Selain dipadati pengunjung, banyak pedagang ikut meramaikan suasana, memanfaatkan keramaian untuk mengais rezeki.

Baca Juga: Saat Pasukan Jepang Memasuki Bandung, 1942

Setelah lama berjuang, api yang telah menyala sejak 1 September 1984 itu pun akhirnya padam. Puncak perjuangan terjadi pada Minggu, 25 November 1984. Setelah bekerja tanpa henti, tim yang beranggotakan sekitar 200 personel Pertamina berhasil memadamkan api. Mereka memompa air bertekanan tinggi ke sumber kebakaran. Nyala api pun akhirnya padam, berganti semburan air, lumpur, dan gas dari dalam sumur. Tepuk tangan bergema, sebagian pekerja mengangkat tangan ke langit sebagai tanda syukur.

Kegembiraan tak hanya dirasakan para pekerja, tetapi juga masyarakat sekitar. Sebelumnya, sekitar 600 warga Kampung Babakan Jati, Desa Wantilan, harus mengungsi ke tempat aman. Padamnya api membuat mereka akhirnya bisa kembali ke rumah masing-masing dan menjalani aktivitas seperti sedia kala.

Empat dekade kemudian, ingatan tentang api raksasa di Pasirjadi masih menyala. Bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya kewaspadaan dan keselamatan manusia. (Tamat)

Keterangan: Gambar feature bukan gambar sebenarnya, merupakan ilustrasi yang dihasilkan AI.

Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari peristiwa terbakarnya ladang gas di Pasirjadi, Kalijati, Kabupaten Subang. Tulisan bagian kedua pertama dapat diakses melalui link: LEDAKAN GAS KALIJATI, API SETINGGI MONAS (Bagian 1)

Sumber:

Anjungan Minyak Meledak di Pasirjadi, Subang. KOMPAS. Edisi 9 September 1984.

Semburan Api melebihi Tinggi Monas. KOMPAS. Edisi 9 September 1984.

Kebakaran Sumur Pasirjadi Dipadamkan dalam Dua Minggu. KOMPAS. Edisi 14 November 1984.

Kebakaran Sumur Gas Pasirjadi Dipadamkan, Tinggal Semburan Liar. KOMPAS. Edisi 26 November 1984.


Leave a Reply

Your email address will not be published.