“Tetapi di mana pada usia saya, saya mengesampingkan setiap mimpi dan semua visi masa depan untuk lebih menyibukkan diri dengan “Memento Mori” yang berulang hampir setiap hari.” – R. A. Eekhout, dalam sebuah pidato, dua bulan menjelang kematiannya[1].
Kekayaan alam Priangan membuat kaum kolonialis melakukan segala cara untuk mengeksploitasinya. Mereka mengimpor alat-alat modern supaya produksi dan transortasi hasil alam ini bisa dilakukan dengan efektif. Termasuk dengan membangun jaringan kereta api di antara pegunungan dan lembah-lembah Priangan. Masuknya kereta api membuat perkembangan Kota Bandung kian menjadi. Ibukota Karesidenan yang mendapat julukan “Een Kleine Berg Dessa” ini perlahan menjadi kota yang ramai dengan aktivitas penduduknya, termasuk ekonomi dan militer.
Sebuah peneltian tentang penduduk Kota Bandung dibuat oleh perusahaan kereta api bernama Wijnkoopsbaai Exploratie Maatschappij (WEM). Dalam bukunya berjudul “Algemeene Beschrijving van den Elektrische Hoofdspoorweg Bandoeng Zanbaai, Residentie Preanger Regentschappen, Java.”, bertarikh 1906, WEM memberi gambaran umum pentingnya dibanguna jaringan kereta api ke kawasan selatan Bandung, bahkan sampai ke Zandbaai (teluk pasir, Ciletuh sekarang).

WEM melaporkan, telah terjadi perkembangan penduduk kota Bandung yang signifikan, terutama karena aktivitas militer di Bandung dan juga setelah dibukanya jalur kereta api Cikampek Padalarang pada tahun 1906. Kenaikan angka penduduk ini membuat harga bahan pokok mengalami kenaikan karena permintaan yang tinggi tidak disertai pasokan yang cukup. Keadaan ini membuat WEM yang dikepalai oleh R. A. Eekhout merasa pantas untuk mengajukan konsesi pembuatan jalur kereta api antara Bandung dan Ciletuh.
Menurut Eekhout, pembangunan jalur ini selain akan mempermudah mobilitas penduduk, juga mempermudah pengangkutan hasil alam yang dibutuhkan masyarakat Bandung, seperti beras dan sayuran dari daerah-daerah subur di selatan Bandung, Cianjur, dan Sukabumi. Dan juga, jalur kereta api ini akan mempermudah pengangkutan bahan ekspor seperti teh.

Dalam rencananya, WEM akan membangun sekitar 9 stasiun dan 36 halte dan stopplaats. Stasiun yang akan dibangun antara lain ada di Soreang, Ciwidey, Citambur, Sagaranten, dan Ciletuh. Dalam hitungan WEM, jalur kereta api yang akan dibuat adalah 135 km. Namun jika kita ukur menggunakan Google Maps, jalur ini akan berjarak hampir 200 km.
Ambisi besar lainnya adalah, bahwa jalur ini merupakan jalur kereta api listrik. Dalam buku tercatat, sebanyak 9 air terjun disiapkan sebagai sumber listrik bagi keberadaan jalur kereta api ini, termasuk pembangunan pembangkit listrik di Curug Citambur. Total, biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur ini adalah 30.000.000 gulden atau rata-rata sebesar 130.435 gulden per kilometer.
Mega proyek untuk menghubungkan Bandung dan Ciletuh ini mendapat persetujuan lewat Keputusan Pemerintah tanggal 4 Maret 1907 No. 42[2] [3]. Sayangnya, proyek ini gagal terlaksana, karena R. A. Eekhout selaku direktur WEM, keburu meninggal, 14 Februari 1911.
[1] R. A. Eekhout, De Preanger-bode, 15-02-1911
[2] Agus Mulyana, Sejarah Kereta Api di Priangan (Yogyakarta: Ombak, 2017), 169.
[3] S. A. Reitsma, Indische Spoorweg-Politiek, Deel VIII (Batavia: Landsdrukkerij, 1920), 179.


Leave a Reply