Pada tahun 1919, Kota Bandung dilanda banjir cukup besar. Banjir ini disebabkan oleh hujan deras di kawasan Dago dan beberapa wilayah di Bandung Utara. Menurut laporan koran De Preangerbode[1], curah hujan yang turun di sana mencapai angka 137 milimeter. Besarnya air hujan tidak tertampung oleh sungai Ci Kapundung yang sempit. Air yang meluap ke tepian membanjiri kampung-kampung di sepanjang sungai.
Di sekitar Jalan Braga, potongan rumah dan barang-barang terlihat hanyut. Diberitakan, ketinggian air di sepanjang sisi sungai mencapai setinggi orang dewasa, sehingga warga harus dievakuasi dan diungsikan te tempat yang lebih aman. Sedangkan di desa Suniaraja, 16 rumah yang terendam air, roboh dan rata dengan tanah.
Di Bandung bagian atas, kolam renang Cihampelas ikut terendam karena air banjir mencapai kolam saat itu. Tidak jauh dari kolam renang, pipa pabrik Conversen mengalami rusak berat. Menurut van Sandick[2], Pabrik Conversen merupakan pabrik yang memasok makanan kelangan bagi para tentara. Pabrik ini terletak di Lembang Weg atau Jalan Cihampelas sekarang. Di Bandung bagian bawah, tepatnya sekitar Regol dan Desa Lengkong, keadaan lebih parah. Air meluap sangat tinggi sehingga menutupi jalan.

Banjir di Bandung akhir Maret 1919 itu menggenangi kantor dan percetakan koran De Preangerbode yang beralamat di Jalan Raya Pos 56-58. Ruang mesin, percetakan, dan ruang komposisi dipenuhi air. Edisi pagi koran Preangerbode tanggal 29 Maret 1919 tidak dapat dicetak dan diterbitkan. Untunglah, koran edisi sore masih bisa mereka terbitkan.
Terjangan banjir yang besar merusak stasiun pembangkit listrik tenaga air di Dago, milik Bandoengsche Electriciteits Maatschappij (BEM). Padahal, stasiun ini baru melakukan percobaan dengan transformator pinjaman dari Madiun.
Kerusakan pembangkit membuat listrik di Bandung, padam sampai berminggu-minggu. Setelah diterjang banjir, tidak ada yang tersisa di pembangkit listrik tersebut kecuali hamparan lumpur yang luas, tumpukan besi yang kusut, dan pecahan tembok. De Preangerbode menulis bahwa tidak ada jejak struktur yang dapat dikenali di tempat bangunan itu berdiri.

Pembangkit listrik di Dago tidak hanya memasok listrik ke Kota Bandung saja, stasiun ini juga memasok stasiun radio nirkabel di atas Gunung Malabar yang berjarak 40 km dari Dago. Untungnya, banjir tidak menganggu operasional stasiun radio tersebut. Stasiun yang dirintis oleh Cornelis de Groot ini memiliki pemasok listik lain, sehingga tidak terpengaruh oleh kejadian di Dago.
Banjir yang berlangsung sejak jam 6 sampai 9 malam ini setidaknya menelan 3 korban. Seorang pria dilaporkan hanyut terbawa banjir di belakang Pabrik Conversen. Dua korban lainnya merupakan anak-anak yang hilang di balik Gedung De Vries. Tetapi, polisi membantah adanya korban. Mereka mengatakan tidak ada korban meninggal selama banjir.
Bandoengsche Electriciteits Maatschappij, Banjir Bandung, Biro Teknik Sunda, Cihampelas, Cikapundung, Conversen Fabriek, Cornelis de Groot, Dago, De Preangerbode, De Vries, Jalan Raya Pos, Lembang Weg, Radio Malabar, Vorkink
[1] Bandjir-misère.De Preanger-bode.29-03-1919


Leave a Reply