LEBARAN DI BANDUNG BAHEULA: Dari Adu Bagong hingga Pengawasan Pihak Kolonial

LEBARAN DI BANDUNG BAHEULA: Dari Adu Bagong hingga Pengawasan Pihak Kolonial

Idulfitri merupakan salah satu hari raya yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Bandung. Sejak dahulu, masyarakat Bandung dari berbagai kalangan menyambut hari besar yang dikenal dengan istilah Lebaran ini. Orang Eropa menyebut Lebaran sebagai “Tahun Baru orang Islam,” di mana perayaannya terkesan lebih meriah dibandingkan dengan tahun baru di bulan Muharam.

Pada abad ke-19, perayaan Lebaran di Bandung berpusat di Alun-Alun, yang saat itu merupakan pusat pertemuan masyarakat dengan para pemimpin di bawah arahan bupati. Saat Lebaran, masyarakat Bandung dihibur dengan pesta rakyat yang diselenggarakan di Alun-Alun. Mereka disuguhi berbagai permainan seperti balap karung dan panjat pinang. Di bagian selatan Alun-Alun, disediakan tribun tempat pria dan wanita duduk untuk menyaksikan permainan[1].

Baca Juga: Alun-Alun, Rahim Sepakbola Kota Bandung

Selain permainan tersebut, ada juga pertunjukan adu bagong, sebuah permainan khas Priangan[2]. Bagi pihak kolonial, momen Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk mengamati kebiasaan serta karakter penduduk setempat. Mereka terpukau melihat bagaimana ribuan masyarakat yang menghadiri pesta rakyat di Alun-Alun tetap bersikap tenang[3]. Dari atas Babancong di Alun-Alun, mereka mengamati bagaimana kepolisian mengatur kerumunan besar tersebut.

Orang Belanda berpendapat bahwa terpenuhinya kebutuhan selama Lebaran membuat masyarakat bersikap lebih tenang. Dalam surat kabar, mereka menulis bahwa selain permainan rakyat di Alun-Alun, pakaian baru seperti baju, kain sarung, jaket, dan sepasang sandal baru berkontribusi dalam menciptakan suasana damai[4].

Sebelum Lebaran tiba, masyarakat Bandung mempersiapkan diri agar dapat merayakannya dengan sukacita, termasuk membeli pakaian baru. Para tuan Eropa bahkan harus rela kehilangan asisten rumah tangga (ART) mereka selama beberapa hari karena mereka mengambil cuti Lebaran. Selain itu, para ART biasanya meminta gaji mereka lebih awal, mirip dengan tunjangan hari raya (THR) di masa sekarang[5].

Untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, masyarakat berbondong-bondong ke pasar, menjadikannya lebih ramai dari biasanya. Ada cerita unik tentang bagaimana masyarakat Bandung menyerbu pasar sekitar tahun 1930-an. Dalam buku Ramadhan di Priangan, Haryoto Kunto menuliskan bahwa kabar datangnya Idulfitri saat itu sedikit terlambat karena hilal tidak terlihat di Masjid Cipaganti akibat mendung dan hujan rintik-rintik. Berita resmi tentang pergantian bulan dari Ramadan ke Syawal baru datang menjelang tengah malam. Sontak, masyarakat yang mendengar kabar mendadak itu langsung bergegas membayar zakat fitrah serta membeli kebutuhan Lebaran mereka[6].

Sebagai pemimpin masyarakat lokal, bupati menjadi simbol tertinggi dalam perayaan Lebaran. Pada pagi hari, bupati dan jajarannya meninggalkan pendopo untuk melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Agung. Setelah salat, bupati kembali ke pendopo dengan didahului iring-iringan anak-anak yang mengenakan pakaian baru. Prosesi ini diiringi oleh suara petasan dan gamelan[7].

Tanpa kehadiran bupati, perayaan Lebaran di Bandung terasa kurang bermakna. Pada Lebaran tahun 1897, permainan rakyat di Alun-Alun sempat ditiadakan karena bupati sedang sakit[8]. Namun, pada tahun 1902, bupati yang harus kembali absen, tetap mengizinkan permainan rakyat digelar di Alun-Alun dan pelataran Pendopo. Ia juga mengundang anak-anak sekolah Eropa yang biasanya menghadiri festival tersebut[9].

Selain di siang hari, perayaan Lebaran juga berlangsung hingga malam. Di Pendopo, bupati menerima tamu yang datang untuk bersilaturahmi, termasuk orang-orang Eropa[10]. Pada Lebaran tahun 1908, di pelataran Pendopo kabupaten diadakan pertunjukan tonil yang diselenggarakan oleh Societeit Paroekoenan. Mereka mementaskan cerita Siti Mariamah, yang diadaptasi dari novel karya Hadji Mukti[11].

Perayaan Lebaran di Bandung berlangsung selama seminggu penuh sebelum masyarakat kembali ke aktivitas sehari-hari. Dengan pakaian baru yang berwarna-warni, mereka memanfaatkan waktu untuk bepergian serta mengunjungi teman dan sanak saudara untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan[12].

Tradisi perayaan Lebaran di Bandung tempo dulu mencerminkan bagaimana masyarakat menyatukan kebahagiaan, budaya, dan nilai sosial dalam satu momen yang istimewa. Meskipun zaman terus berubah, semangat merayakan Idulfitri dengan sukacita, berbagi kebahagiaan, dan mempererat silaturahmi tetap menjadi bagian yang tidak tergantikan dalam kehidupan masyarakat hingga kini.

Referensi:
[1] Bataviaasch Nieuwsblad. 24-08-1887. Uitstapjes in de Preanger.

[2] Java-Bode. 24-03-1896. Een Reisje in het Oosten der Preanger-Regentschappen.

[3] Java-Bode. 24-03-1896. Een Reisje in het Oosten der Preanger-Regentschappen.

[4] De Preanger-Bode. 22-02-1897. Iets over de Soendaneezen.

[5] Java-Bode. 24-03-1896. Een Reisje in het Oosten der Preanger-Regentschappen.

[6] Kunto, Haryoto. 1996. Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe). Bandung: Pt Granesia.

[7] Java-Bode. 24-03-1896. Een Reisje in het Oosten der Preanger-Regentschappen.

[8] De Preanger-Bode. 15-03-1897. Plaatselijk Nieuws.

[9] De Preanger-Bode. 10-01-1902. Nederlandsch-Indië.

[10] Java-Bode. 24-03-1896. Een Reisje in het Oosten der Preanger-Regentschappen.

[11] De Preanger-Bode. 23-10-1908. Inlandsch Tooneel.

[12] Provinciale Overijsselsche en Zwolsche Courant. 06-03-1905. Indische Penkrassen.


Leave a Reply

Your email address will not be published.