“Dan begitulah datangnya — setiap hari satu sapuan Kemeja lengan dalam setahun, —
Akhirnya! jalur panjang
Siap menuju Madjalaja!
Namun butuh waktu yang lama, Namun tak bisa lebih cepat: Karena hal baik selalu datang
Namun perlahan, perlahan!!”
(T.W.Z.)[1]
Pagi hari merupakan waktu yang sangat sibuk di Jalan Stasiun, di Majalaya. Masyarakat selalu datang memadati pasar kota yang ada di sana. Para pedagang sibuk menajakan dagangannya dan melayani pesanan pembeli. Motor, mobil, becak, truk, dan delman memenuhi jalan yang cukup terkenal di Majalaya tersebut. Jalan Stasiun merupakan satu-satunya pengingat bagi generasi masa kini. Jalan ini menjadi petunjuk bahwa pernah ada stasiun kereta api di Majalaya. Keberadaan stasiun ini sedikit demi sedikit terlupakan, setelah Jepang menguasai. Mereka membongkar jalur kereta api yang berasal dari Stasiun Dayeuhkolot tersebut, sampai tidak bersisa.

Di tahun 1920, perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) memulai pengerjaan jalur yang menghubungkan Stasiun Dayeuhkolot (dahulu disebut Citeureup) dan Stasiun Majalaya. Stasiun Dayeuhkolot dibangun sebagai bagian dari pengerjaan jalur Bandung-Soreang yang dimulai tahun 1917 dan selesai tahun 1921. Dari Stasiun Dayeuhkolot, SS mengambil percabangan ke arah timur, di lokasi setelah jembatan kereta api Citarum. Jalur sepanjang 17 km ini melewati Jelekong, Cangkring, Ciheulang, dan Ciparay. Jika kita telusuri jalur tersebut dari arah persimpangan Manggahang ke Majalaya, bekas jalur ini berada di sebelah kiri jalan. Pada beberapa titik, jalur ini beririsan dengan jalan kampung, sawah, dan jembatan kecil yang dibangun untuk mengakomodasi lalu lintas kereta api.
Baca Juga: BANDUNG-CIWIDEY: Cerita Masa Lalu dan Harapan Masa Depan
Usulan untuk membangun jalur kereta api ke Majalaya telah muncul sejak 1882. F. L. Isasca mengajukan rencana membangun jalur dari Bandung ke Kopo (Soreang) dengan percabangan menuju Majalaya di Bojongsari. Begitu pula dengan G. G. Kan yang ingin menghubungkan Bandung dengan Majalaya dan Cicalengka melalui Dayeuhkolot. Rencana ini kemudian diteruskan oleh R. A. Eekhout serta W. J. P. den Bosch – P. Landberg pada tahun 1893 dan 1898[2].

Pembangunan jalur akhirnya dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda lewat SS. Pemerintah mengeluarkan surat keputusan pemerintah No. 150, tanggal 28 Februari 1920. Mereka memutuskan untuk membuat jalur yang menghubungkan Dayeuhkolot dan Majalaya karena didorong oleh kebutuhan ekonomi. Jalur ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi lalu lintas di dataran tinggi Bandung, termasuk di kawasan perkebunan. Keberadaan kereta api diharapkan dapat membatasi penggunaan truk dan dokar[3].
Saat itu, pemerintah melihat kawasan Majalaya dan Ciparay sebagai daerah yang makmur dan menyimpan potensi ekonomi yang besar. Selain memiliki pasar yang cukup penting, terdapat pusat-pusat pertanian yang terletak di kawasan sebelah timur Sungai Citarum[4]. Menurut sejarawan Agus Mulyana, banyaknya penduduk di distrik Ciparay dan onderdistrik Majalaya turut menjadi alasan pembangunan jalur ini [5]. Di Ciparay, kereta api akan diandalkan untuk mengangkut barang dari perkebunan-perkebunan di dataran tinggi sekitar dan bagian timur Pangalengan[6].

Selain membangun jalur sampai Majalaya, pemerintah sempat meneliti kemungkinan pembangunan jalur lanjutan dari Majalaya menuju Rancaekek atau Cicalengka[7]. Namun, rencana ini hanya menjadi sebuah wacana dan tidak pernah ditindaklanjuti. Jika saja jalur ini diteruskan, kemungkinan besar Majalaya akan memiliki peran lebih besar dalam jaringan transportasi Priangan.
Baca Juga: JEJAK ROMUSHA DI BANDUNG: JALUR KA CICALENGKA-MAJALAYA
Tidak ada upacara besar yang digelar saat peresmian jalur kereta api Dayeuhkolot–Majalaya, pada 3 Maret 1922. Hanya upacara slametan yang digelar beberapa hari sebelumnya oleh para staf konstruksi. Setelah pembukaan, jalur ini melayani 10 perjalanan kereta api yang hasilnya memuaskan dan memenuhi target pendapatan yang diinginkan[8]. Pada perkembangannya, jalur ini dilayani 12 perjalanan kereta api di tahun 1926[9], dengan melewati melewati 5 stasiun, yakni Manggahang, Jelekong, Ciheulang, Ciparay, dan Cibungur.
Sempat menjadi tulang punggung transportasi di Bandung selatan, jalur kereta api Dayeuhkolot akhirnya harus menyerah kepada zaman. Perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang menjadi penyebabnya. Jalur ini kemudian dibongkar sampai tidak bersisa. Meskipun ada wacana untuk menghidupkan kembali Stasiun Majalaya dengan menghubungkannya ke Cicalengka di masa pendudukan Jepang, stasiun ini akhirnya tidak pernah tersambung kembali ke jaringan rel. Perlahan, bangunan stasiun pun raib, dilupakan, dan tinggal menyisakan nama jalan.

Kini, yang tersisa hanyalah ingatan samar tentang suara peluit dan deru lokomotif yang pernah membelah sawah dan dataran Majalaya. Tak banyak warga yang tahu bahwa jalur ini dulu memainkan peran penting dalam roda ekonomi Priangan Timur. Di sepanjang jalurnya, masih bisa ditemukan jejak-jejak samar berupa jalan setapak, bekas jembatan kecil, dan struktur batu yang pernah menopang rel.
Kisah Stasiun Majalaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari sejarah sosial dan ekonomi wilayah Bandung selatan. Ia menjadi saksi bisu betapa pentingnya konektivitas dalam membangun wilayah. Dan meskipun kini hanya tersisa nama di atas papan jalan, Majalaya pernah menjadi akhir dari sebuah perjalanan kereta yang penuh harapan. Semoga di masa depan, kesadaran akan sejarah ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan transportasi berkelanjutan dan pelestarian warisan budaya yang semakin langka.
Gambar: Jalan di Majalaya, tahun 1936. Koleksi Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen.
Referensi:
[1] De Opening Der Lijn Naar Madjalaja. De Preanger-bode. Edisi 4 Maret 1922.
[2] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Hal. 166–174.
[3] De Lijn Dajeuhkolot–Madjalaja. De Preanger-bode. Edisi 18 Februari 1922.
[4] De Lijn Dajeuhkolot–Madjalaja. De Preanger-bode. Edisi 18 Februari 1922.
[5] Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api di Priangan. Yogyakarta: Ombak. Hal. 180.
[6] De Lijn Dajeuhkolot–Madjalaja. De Preanger-bode. Edisi 18 Februari 1922.
[7] De Lijn Dajeuhkolot–Madjalaja. De Preanger-bode. Edisi 18 Februari 1922.
[8] De Nieuwe Tramlijn. De Preanger-bode. Edisi 04 Maret 1922.
[9] Officieele Reisgids Der Spoor- En Tramwegen En Aansluitende Automobieldiensten Op Java En Madoera, Edisi 1926. Solo: N.V. SIE DHIAN HO–SOLO, Halaman 25.


Leave a Reply