Pendahuluan
Penentuan hari jadi Persib Bandung telah menjadi topik diskusi di kalangan Bobotoh dan akademisi, termasuk dalam kajian yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran. Perbedaan pandangan mengenai tahun pendirian klub—1919, 1928, 1933, atau 1934—menunjukkan bahwa sejarah sepak bola di Bandung memiliki dinamika tersendiri. Oleh karena itu, tulisan ini tidak berfokus pada validitas tanggal pendirian Persib Bandung, melainkan pada mobilitas sosial dan gerakan emansipasi masyarakat Bandung pada awal abad ke-20, yang memungkinkan lahir dan berkembangnya berbagai klub sepak bola, termasuk bond perserikatan kota yang kemudian dikenal sebagai Persib Bandung.
Bandung Memasuki Era Modern
Menjelang akhir abad 19, aktivitas ekonomi di Bandung semakin berkembang. Penerapan undang-undang agraria 1870 membuka peluang penanam modal untuk berinvestasi di banyak bidang, seperti perkebunan dan perdagangan. Bandung menjadi kota yang lebih terbuka, setelah perusahaan kereta api negara membangun jalur kereta api yang menghubungkan Bandung dengan Batavia. Masuknya kereta api pada tahun 1884 ini membentuk Bandung menjadi kota modern. Sebelumnya, orang Belanda menyebut Bandung sebagai een kleine berg dessa atau desa pegunungan yang mungil.
Seiring waktu, kota ini berkembang pesat, meninggalkan kehidupan tradisionalnya saat memasuki abad ke-20. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada infrastruktur, tetapi juga pada pola pikir masyarakatnya. Interaksi masyarakat Bandung dengan budaya barat, termasuk di sekolah-sekolah, mempengaruhi kehidupan mereka. Menurut sejarawan Robert van Niel[1], gejala ini merupakan gejala yang umum terjadi di kota-kota Hindia Belanda. Saat itu, masyarakat bumiputra menjadi peniru budaya Eropa karena mereka hidup di lingkungan bercorak Barat.
Salah satu kebiasaan yang mereka tiru adalah permainan sepak bola. Di Bandung, sepak bola diperkenalkan oleh orang-orang Eropa yang tinggal dan bertugas di sana. Klub sepak bola pertama yang terbentuk di kota ini adalah Bandoengsche Voetbal Club (BVC) pada tahun 1900[2] (Sumber). Setelah itu, klub-klub lain mulai bermunculan, termasuk dari komunitas Tionghoa dan bumiputra.
Baca Juga: Alun-Alun, Rahim Sepakbola Kota Bandung
Selain sepak bola, berbagai olahraga modern juga berkembang di Bandung pada akhir abad ke-19. Menurut Voskuil dkk.[3], beberapa di antaranya adalah hoki, bola keranjang, atletik, renang, golf, berkuda, dan tenis. Namun, olahraga-olahraga ini cenderung eksklusif bagi orang Belanda karena aksesnya terbatas dan biayanya mahal. Misalnya, pacuan kuda yang sering diadakan di Tegallega hanya dapat dinikmati oleh kalangan elite sebagai peserta, sementara bumiputra umumnya hanya menjadi penonton.
Olahraga berburu juga populer di kalangan orang Eropa di Bandung pada akhir abad ke-19. Salah satu lokasi favorit untuk berburu adalah Rancaekek. Para pemburu menggunakan kereta api untuk mencapai daerah tersebut dan berburu burung di sana. Namun, seperti pacuan kuda, berburu adalah olahraga mahal yang sulit dijangkau oleh masyarakat bumiputra.
Ketertarikan masyarakat Bandung terhadap olahraga akhirnya tersalurkan melalui sepak bola. Berbeda dengan pacuan kuda atau berburu, sepak bola tidak membutuhkan biaya besar. Hanya dengan sebuah bola, masyarakat dapat bermain di lapangan terbuka. Kondisi ini mendorong perkembangan sepak bola di kalangan bumiputra dan menjadikannya sebagai alat mobilitas sosial. Lebih jauh lagi, sepak bola menjadi simbol perlawanan terhadap inferioritas yang diwarisi dari era kolonialisme.
Sepak Bola dan Gerakan Emansipasi
Dalam Kamus Besar bahasa Indoensia (KBBI), emansipasi memiliki arti persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kesadaran ini berkembang di Hindia Belanda, terutama di awal abad 20, ketika masyarakat mulai tersadar adanya persamaan hak antara mereka dengan para penjajah. Sebelumnya, masyarakat Hindia Belanda dikuasai oleh perasaan rendah diri yang akut.
Rasa rendah diri ini menjadi permasalahan psikologis yang mengendap lama dalam masyarakat bumiputra akibat penjajahan selama berabad-abad. H.O.S. Cokroaminoto dalam pidatonya di Kongres Sarekat Islam di Bandung pada tahun 1916, menyoroti bagaimana penjajahan telah membentuk mentalitas masyarakat bumiputra yang cenderung merendahkan diri secara berlebihan[4].
Salah satu media yang dipakai oleh bumiputra di Hindia Belanda untuk melepaskan diri dari rasa inferior adalah sepak bola. Lebih dari sekadar permainan, sepak bola menjadi sarana efektif bagi bumiputra untuk melakukan mobilitas sosial. Dengan sepakbola, mereka berkumpul, berserikat, dan membentuk klub-klub lokal. Adanya olahaga ini perlahan mengikis perasaan inferior di kalangan bumiputra. Olahraga ini menjadi alat emansipatif yang menyatukan masyarakat dan memberikan kesempatan bagi bumiputra untuk membuktikan diri sejajar dengan bangsa lain. Di lapangan hijau, pemain bumiputra bisa beradu fisik, taktik, dan teknik dengan orang Eropa.
Pada tahun 1919, klub-klub sepak bola bumiputra di Bandung bersatu membentuk bond perwakilan kota bernama Bandoengsch Inlandsch Voetbal Bond (BIVB). Mengutip surat kabar Kaoem Moeda edisi 7 Januari 1919, selain sebagai organisasi sepak bola, BIVB juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti penggalangan dana untuk membantu masyarakat bumiputra yang terkena musibah dan mendukung sekolah-sekolah bumiputra[5].
Meski organisasi sepak bola di Bandung mengalami perubahan seiring waktu dan pergantian generasi, semangat persatuan tetap terjaga. Gerakan ini bahkan meluas ke tingkat nasional. Pada tahun 1930, Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB), yang merupakan evolusi dari BIVB 1919, menjadi salah satu pendiri Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Organisasi bond kota Bandung ini kemudian berevolusi menjadi Persib Bandung, yang bertahan hingga saat ini sebagai klub sepak bola profesional.
Kesimpulan
Di masa olonial, bond sepak bola di Bandung mengalami beberapa kali perubahan nama dan bentuk akibat dinamika sosial, perubahan zaman, serta pergantian generasi. Namun, terlepas dari perubahan tersebut, sepak bola tetap menjadi medium emansipasi bagi masyarakat Bandung. Pada tingkat lokal, sepak bola menjadi wadah bagi bumiputra untuk membangun kesadaran kolektif dan menumbuhkan kepercayaan diri. Sementara itu, pada tingkat nasional, gerakan ini turut berkontribusi dalam pembentukan federasi sepak bola bumiputra yang kemudian menjadi bagian dari identitas sepak bola Indonesia.
Sumber gambar: Repro Majalah Olahraga
Artikel:
[1] Van Niel, Robert. 1984. Munculnya Elite Modern Indonesia. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Halaman 42.
[2] W. Berretty. 1934. 40 Jaar voetbal in Ned-Indie. Soekabumi: Berretty. Halaman 98.
[3] Voskuil, R. P. G. A. 2007. Citra Sebuah Kota. Bandung: Departemen Planologi ITB bekerja sama dengan PT. Jagaddhita, 2007. Halaman 71-72.
[4] Korver, A.P.E. 1985. Sarekat Islam dan Gerakan Ratu Adil. Jakarta: PT Grafitipers. Halaman 50.
[5] Kurnia, Atep. Bandoengsch Inlandsch Voetbal Bond: Perserikatan Pertama Bangsa Pribumi di Bandung. Ayobandung.com, edisi Kamis 2 Desember 2021. Link: https://www.ayobandung.com/netizen/pr-792040595/bandoengsch-inlandsch-voetbal-bond-perserikatan-pertama-bangsa-pribumi-di-bandung?page=all (Diakses 17 Maret 2025).


Leave a Reply