Sambungan Gas di Kota Bandung

Sambungan Gas di Kota Bandung

Pada tanggal 17 Februari 1921, Kota Bandung menjadi salah satu kota di Hindia Belanda yang menggunakan gas sebagai sumber energi untuk kehidupan sehari-hari dan penerangan kota. Gas tersebut merupakan hasil olahan batu bara yang dilakukan di pabrik gas yang dikelola oleh Nederlandsch-Indische Gas-Maatschappij (NIGM) di Kiaracondong. Sejak pemasangan pipa pertama dilakukan pada 20 April 1920, telah terpasang jaringan pipa gas sepanjang 50 km di bawah jalan-jalan utama Kota Bandung, termasuk Jalan Dago[1].

Untuk mendirikan pabrik gas di Bandung, NIGM harus menempuh perjalanan yang cukup panjang dan berliku. Menurut artikel berjudul N.I. GAS MIJ. dalam koran De Preanger-bode edisi 25 Juli 1922, NIGM telah mengajukan izin konsesi sejak tahun 1911[2]. Namun, mereka menghadapi berbagai rintangan, termasuk penolakan dari pemerintah kota yang khawatir akan persaingan usaha antara NIGM dan perusahaan listrik kota saat itu, Bandoengsche Electriciteits Maatschappij (BEM), yang kelak bernama Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO). Cerita ini disampaikan oleh Direktur Semarangsche Gasfabriek, L.P.J.M. Sauter, dalam presentasinya di hadapan anggota Bandoengsche Kiesvereeniging di Societeit Ons Genoegen pada 18 Desember 1918[3].

Stan promosi perusahaan NIGM di Jaabeurs tahun 1938.

Perjuangan NIGM ternyata tidak sia-sia. Perusahaan gas yang berdiri sejak 1863 ini akhirnya mendapatkan konsesi eksklusif dari Dewan Kota Bandung pada 17 Juli 1919. Meski demikian, mereka masih harus menghadapi tantangan dalam pendanaan, pengangkutan mesin, dan instalasi peralatan[4].

Beberapa poin menjadi pertimbangan Dewan Kota untuk memberikan konsesi kepada NIGM, antara lain[5]:

  1. Keberadaan perusahaan gas dapat mengurangi monopoli BEM atas listrik kota Bandung.
  2. Penggunaan gas dapat mengurangi penggunaan kayu bakar dalam rumah tangga.
  3. Pemerintah kota dapat mengurangi tanggung jawab atas penerangan kota dengan bantuan perusahaan gas.

Dukungan masyarakat terhadap penggunaan gas di Bandung pun semakin kuat. Dalam voting yang dilakukan Dewan Kota, sebanyak 13 suara mendukung pemberian izin pendirian pabrik gas dan penggunaan gas di Bandung selama 30 tahun, sementara 4 suara menolak[6].

Oven vertikal di Pabrik Gas Bandung.

Setelah izin diberikan, langkah selanjutnya adalah menentukan lokasi pembangunan pabrik gas. Melalui mediasi dengan dienst van gemeente-werken, sebidang tanah untuk pemangunan pabrik dibeli di dekat desa Kiaracondong, sebelah timur kota[7]. Saat itu, Kiaracondong tengah dikembangkan sebagai kawasan industri (industriewijk). Pengembangan Kawasan industri ini sejalan dengan kebijakan pemerintah kolonial yang menetapkan Kiaracondong dan Cikudapateuh sebagai pusat industri Bandung pada tahun 1920-an[8]. Kawasan Kiaracondong dipilih karena lokasinya yang strategis, dekat dengan Jalan Raya Pos, serta telah memiliki halte kereta api. Sebelumnya, pemerintah Hindia Belanda juga telah membangun Artilerie Constructie Winkel (sekarang PT Pindad) di kawasan ini.

Desain proyek pembuatan pabrik gas dikerjakan oleh Bureau Schoemaker en Associatie, sementara pembangunan pabrik dikerjakan oleh firma Selle en De Bruijn[9] [10]. Dalam proses pembangunannya, penyediaan material sempat mengalami kendala akibat kebakaran di Pelabuhan Tanjung Priok[11].

Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya Bandoengsche Gasfabriek mulai beroperasi pada 17 Februari 1921 dengan kapasitas produksi awal sebesar 10.000 meter kubik per hari[12]. Pada tahun 1930, kapasitas harian meningkat menjadi 25.000 meter kubik setelah dilakukan ekspansi[13].

Baca Juga: Stasiun Bandung, Stasiun dengan Pencahayaan Terbaik

Setelah peresmian pabrik gas, koran Preanger Bode mencatat bahwa penggunaan gas akan sangat membantu warga Bandung. Mereka menulis bahwa dengan pemasangan gas ini, warga tidak perlu lagi repot menyalakan api dengan kayu atau kompor minyak tanah di dapur. Selain lebih bersih, penggunaan gas juga lebih praktis karena tinggal menyalakan api dari keran[14].

Kantor NIGM di Jalan Braga.

Untuk mendukung operasional pabrik, NIGM membuka kantor dan ruang pamer di Jalan Braga No. 38. Kantor baru ini menggantikan kantor lama mereka yang sebelumnya beralamat di Jalan Kaca-kaca Wetan nomor 119A. Kantor di Jalan Braga beroperasi dari pukul 07.30 hingga 16.30, sementara showroom buka hingga pukul 20.00. Di showroom ini, berbagai peralatan gas seperti kompor, pemanas air, pembuat es, pemanggang kopi, dan peralatan gas industri dapat didemonstrasikan langsung. Pada tahun 1929, hampir semua rumah di Bandung telah tersambung dengan jaringan pipa gas[15].

Pendirian pabrik gas di Bandung merupakan hasil dari perjuangan panjang selama lebih dari satu dekade. Meski sempat mendapat penolakan dari pemerintah kota, desakan dari kalangan swasta akhirnya membuahkan hasil. Dengan adanya pabrik gas ini, Bandung tidak hanya mengalami kemajuan dalam hal penerangan dan kebutuhan energi, tetapi juga semakin memperkokoh posisinya sebagai kota industri di Hindia Belanda.

Sumber:
[1] De Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 17 Februari 1921.

[2] N.I. GAS MIJ. De Preanger-bode. Edisi 25 Juli 1922.

[3] Een gas-fabriek voor Bandoeng. De Preanger-bode. Edisi 19 Desember 1918.

[4] N.I. GAS MIJ. De Preanger-bode. Edisi 25 Juli 1922.

[5] De Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 25 Maret 1919.

[6] De Bandoengsche Gasfabriek. Het Nieuws van den dag Voor Nederlandsch Indie. Edisi 18 Juli 1919.

[7] De Bandoengsche Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 5 November 1919.

[8] De Vierde Gemeentelijk Excursie. De Preanger-bode. Edisi 20 Desember 1920.

[9] De Bandoengsche Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 5 November 1919.

[10] De gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 17 Januari 1920.

[11] De Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 17 Februari 1921.

[12] 1863-1938: Gedenkboek Nederlandsch-Indische Gas-Maatschappij. Rotterdam: N.V. Drukkerij M. Wyt & Zonnen Hal. 47

[13] 1863-1938: Gedenkboek Nederlandsch-Indische Gas-Maatschappij. Rotterdam: N.V. Drukkerij M. Wyt & Zonnen Hal. 48

[14] De Gasfabriek. De Preanger-bode. Edisi 17 Februari 1921

[15] 1929. Gids Voor Den Nieuwe Aangekomene Te Bandoeng. Bandoeng. Hal. 25


Leave a Reply

Your email address will not be published.