SEJARAH RSHS: Rancabadak, di Bawah Bayang-Bayang Ratu Juliana

SEJARAH RSHS: Rancabadak, di Bawah Bayang-Bayang Ratu Juliana

Sampai saat ini, sebagian orang Bandung masih menyebut Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) sebagai Rumah Sakit Rancabadak. Penyebutan ini merujuk pada penggunaan “Rancabadak” sebagai nama resmi rumah sakit yang terletak di Jalan Pasteur tersebut, pasca penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada akhir tahun 1940-an. Menurut situs resmi RSHS, nama Rancabadak digunakan sebagai nama rumah sakit dari tahun 1950 hingga 1967[1].

Penggunaan nama Rancabadak tidak lepas dari toponimi lokasi berdirinya rumah sakit. Antara tahun 1920 hingga 1923, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun sebuah rumah sakit di kawasan yang berada di utara Kota Bandung itu. Masyarakat—baik pribumi maupun Eropa—menyebut tempat tersebut dengan nama Rancabadak.

Dalam bahasa Sunda, ranca badak berarti rawa-rawa yang sering dikunjungi oleh badak. Menurut Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Bandung baheula masih merupakan dataran sepi yang didominasi oleh hutan belukar dan paya-paya. Kawasan ini menjadi habitat bagi beberapa hewan liar seperti macan tutul, harimau, dan badak. Hingga pertengahan abad ke-19, badak-badak masih terlihat berkeliaran di kawasan Cisitu[2].

Baca jugaSejarah Singkat Lahirnya Kota Bandung

Pada mulanya, rumah sakit yang bersebelahan dengan Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur ini diberi nama resmi Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis. Empat tahun setelah diresmikan, namanya diubah menjadi Het Gemeente Ziekenhuis Juliana. Nama ini diambil dari nama Putri Kerajaan Belanda, Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina. Perempuan kelahiran 1909 ini kemudian menjadi Ratu Belanda menggantikan ibunya pada tahun 1948.

Kompleks Gemeente Ziekenhuis Juliana di sebelah kiri gambar. Sumber: Bandoeng, de Stad op de Hoogvlakte.

Di masa pendudukan Jepang, rumah sakit ini difungsikan sebagai rumah sakit militer[3]. Setelah kemerdekaan dan penyerahan kedaulatan, pemerintah Indonesia berniat mengganti nama rumah sakit tersebut. Nama Rancabadak pun mencuat sebagai kandidat kuat pengganti nama Juliana.

Usulan ini mendapat tentangan dari kalangan Belanda, salah satunya dari Ir. Poldervaart. Dalam pembahasan dewan kota mengenai perubahan nama rumah sakit Juliana pada tahun 1950, Poldervaart menyatakan bahwa nama Rancabadak sangat tidak layak digunakan sebagai nama rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit tersebut sebaiknya kembali menggunakan nama lamanya, Juliana. Alasannya, Ratu Belanda yang menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan kepada Indonesia itu memiliki tempat khusus dalam sejarah bangsa[4].

Baca jugaSebuah Hadiah Ulang Tahun: Dari Bandung Untuk Juliana

Namun, protes dari Poldervaart tidak diterima oleh sebagian besar anggota dewan. Mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan sebuah nama lokal dibanding nama besar peninggalan kolonial. Nama Rancabadak pun akhirnya terpilih sebagai nama rumah sakit saat itu.

Referensi:
[1] https://web.rshs.go.id/tentang-kami/sejarah/

[2] Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: PT. Granesia. Hal. 68.

[3] https://web.rshs.go.id/tentang-kami/sejarah/

[4] Bandung’s begroting goedgekeurd. Indische Courant voor Nederland. Edisi 10-05-1950


Leave a Reply

Your email address will not be published.