Setelah berhasil menguasai Ciater pada 5 Maret 1942, pasukan Jepang terus mengejar pasukan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang berusaha menghadang pergerakan mereka menuju Bandung. Batalion Wakamatsu kembali melanjutkan pertempuran sejak pagi keesokan harinya.
Baca Juga: CIATER STELLING BAGIAN 1: KEJATUHAN CIATER
Pertempuran berlangsung sengit pada 6 Maret 1942. Meskipun didukung oleh kekuatan udara, pasukan Jepang mengalami kesulitan dalam menembus pertahanan Belanda. KNIL beberapa kali berhasil menghalau serangan, bahkan melakukan serangan balik. Medan yang sulit, dengan celah sempit dan hutan lebat setelah Ciater, membuat pasukan Wakamatsu tertahan hingga sore hari.

Selain faktor medan, Jepang juga tidak mengetahui secara pasti kekuatan pasukan Belanda di wilayah itu. Informasi penting akhirnya diperoleh setelah mereka menangkap sekitar 30 hingga 40 tentara KNIL dalam pertempuran. Dari para tawanan ini, Jepang mendapatkan gambaran tentang jumlah dan posisi pasukan musuh, serta menemukan jalan pintas menuju markas Belanda di Cicenang.
Dengan informasi tersebut, Batalion Wakamatsu bergerak ke selatan melalui jalan pintas di tengah kabut kaki Gunung Tangkuban Perahu. Setelah kabut mulai menipis, mereka melancarkan serangan mendadak ke markas Belanda di Cicenang. Serangan kejutan ini membuat pasukan KNIL panik, sebagian besar berlarian ke perbukitan di belakang markas mereka.
Meskipun memiliki peluang untuk menghabisi sisa pasukan musuh, Wakamatsu memutuskan untuk menghentikan pertempuran dan mengamankan posisi. Saat itu, hari mulai gelap.
Kejatuhan Cicenang menjadi titik balik dalam Pertempuran Ciater. Markas KNIL di Cicenang merupakan pos pertahanan utama sekaligus benteng terakhir Belanda di jalur antara Bandung dan Ciater. Dengan jatuhnya pos ini, Belanda kehilangan kekuatan tempur di kawasan tersebut. Sebaliknya, Jepang kini memiliki jalur terbuka menuju Bandung tanpa perlawanan berarti.
Bersambung
Disadur dari buku The Invasion of the Dutch East Indies, Dikompilasi oleh The War History Office of the National Defense College of Japan, diterjemahkan dan diedit oleh Willem Remmelink.


Leave a Reply